Warga-Nelayan Pesisir Teluk Lampung Lakukan Penangkapan Terukur

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Fase harian pasang surut air laut menjadi berkah tersendiri bagi warga pesisir Teluk Lampung. Saat pasang, nelayan tangkap dengan bagan congkel bisa memasuki alur sungai Way Balau di Kelurahan Kota Karang, Kecamatan Teluk Betung Barat, Bandar Lampung, sedangkan saat surut nelayan tangkap bisa mencari ikan di sekitar vegetasi mangrove atau hutan bakau.

Sugeng, nelayan tangkap yang dikenal sebagai spesialis pencari kepiting bakau, mengaku sesekali mencari rajungan, lobster dan kerang darah yang mudah ditemukan kala air laut sedang surut.

Penangkapan terukur berbasis kearifan lokal dilakukan olehnya memakai sejumlah alat tradisional.  Ia memakai bubu kawat, bubu kayu dan alat penjepit. Memanfaatkan vegetasi mangrove jenis api api, ia bisa berburu kepiting bakau.

Sugeng bilang, kepiting bakau kerap bersembunyi di lubang berlumpur. Area pasang surut air laut tepat berada di bawah rerimbunan pohon bakau, api api menjadi lokasi ia mencari kepiting. Puluhan bubu kawat, bambu dipasang di pantai yang berlumpur. Memakai umpan kelapa, ia bisa menangkap kepiting bakau. Sesekali jenis kerang darah dan lobster bisa diperoleh.

“Peralatan tangkap yang digunakan cukup sederhana, namun memberi hasil ratusan ribu rupiah per hari bagi saya saat beruntung, tanpa harus pergi melaut menggunakan perahu, saya juga hanya menangkap kepiting berukuran besar dan tidak bertelur,” terang Sugeng saat ditemui Cendana News, Senin (4/10/2021).

Sejak pagi, Sugeng mengamati pasang surut air laut. Saat surut, ia bisa menjangkau rerimbunan vegetasi mangrove api api dan bakau. Sehari ia bisa mendapatkan 3 hingga 5 kilogram kepiting bakau. Kepiting dengan capit yang besar dan menyakitkan saat terkena tangan diantisipasi dengan menali. Setelah dijepit, ia akan menali bagian capit dan menyimpannya dalam karung dalam kondisi masih hidup.

Vegetasi mangrove dan muara sungai di pesisir laut Kota Karang, Teluk Betung Barat, jadi sumber penghasilan Sugeng untuk mendapatkan kepiting bakau, Senin (4/1-/2021). -Foto: Henk Widi

Kepiting bakau, sebut Sugeng menjadi sumber penghasilan. Per kilogram kepiting bakau bisa dijual ke pengepul seharga Rp30.000, pada level konsumen bisa dijual Rp65.000. Mendapatkan hasil tangkapan sebanyak 5 kilogram, ia bisa mengantongi uang Rp150.000 per hari. Proses mencari kepiting dilakukan dengan metode ramah lingkungan.

“Alat yang digunakan bubu kawat cukup diikat dekat pohon bakau, sementara alat penjepit untuk mencari kepiting pada lubang berlumpur,” ujarnya.

Keberadaan Teluk Lampung di wilayah Kota Karang yang dianugerahi vegetasi mangrove, juga menjadi sumber penghasilan bagi Bella. Ia menyebut, peluang mendapatkan sumber tambahan penghasilan dilakukan dengan mencari keong. Jenis keong potamididae oleh warga pesisir dikenal dengan keong kompet berbentuk terompet. Keong kompet menempel pada akar tanaman api api.

“Kami mencari keong yang hidup secara liar di pesisir Teluk Lampung bukan untuk dikonsumsi, tetapi untuk bahan pakan lobster,” ulasnya.

Budi daya berkelanjutan, sebut Bella memberi peluang ia mencari pakan lobster. Lobster dibudidayakan di perairan pulau Pasaran dan sebagian Kabupaten Pesawaran. Keong kompet akan dipungut lalu dikumpulkan dengan karung. Setelah cukup banyak, ia bersama sejumlah wanita lain akan memecah cangkang keong. Daging keong dikumpulkan sebelum dibeli pengepul.

Penangkapan terukur, sebut Bella diterapkan dengan cara hanya memilih keong ukuran besar. Cara tersebut memberi kesempatan keong ukuran kecil berkembang. Habitat alami pada akar napas mangrove membuat keong kompet mudah dicari. Per kilogram daging keong kompet dibeli pengepul seharga Rp8.000. Saat mendapat 10 kilogram, ia bisa membawa pulang Rp80.000.

“Harga daging keong yang telah dipisahkan dari cangkang hitungannya seharga satu kilogram beras, jadi bisa untuk makan keluarga,” ulasnya.

Memperoleh keong kompet, sebut Bella dilakukan dengan menyusuri vegetasi mangrove. Saat surut, ia bisa menjangkau area berlumpur yang ditumbuhi bakau. Tanpa memakai alat khusus, cukup memakai sarung tangan kain, ia bisa memungut keong kompet. Keberadaan mangrove menjadi sumber penghidupan baginya dalam mencari keong kompet.

Sementara itu Samijan, nelayan tangkap tradisional pemilik rumah apung di Kota Karang, memasang jaring apung dan jaring tancap untuk mendapatkan udang dan ikan. Pemasangan dilakukan memakai perahu kayu sederhana. Ia bisa mendapatkan belasan kilogram ikan untuk kebutuhan harian, sebagian dibuat menjadi ikan asin.

“Ikan berukuran besar masih bisa dijual segar jenis selar, kakap putih, sementara jenis teri dan ikan lain dikeringkan menjadi ikan asin,” ulasnya.

Selain menangkap ikan laut untuk kebutuhan sendiri, ia juga kerap membantu bos pemilik bagan apung. Bagan apung yang menghasilkan tangkapan ikan teri akan diangkut memakai perahu miliknya ke pulau Pasaran. Sebagai sentra produksi ikan asin dan ikan teri, ia bisa mendapatkan sumber penghasilan sebagai penyedia jasa angkut teri yang telah dikemas.

Penangkapan ikan terukur juga diakui Hardianti, pedagang ikan di pasar Gudang Lelang. Ia membeli atau kulakan ikan selar, kembung, tuna dan ikan berukuran besar. Memilih menjual ikan ukuran besar juga menghindari penangkapan ikan berlebihan.

“Kesegaran ikan laut hasil tangkapan, tetap bisa terjaga dengan penggunaan es balok,” katanya.

Lihat juga...