‘Areniss’ Kenalkan Gula Aren hingga Mancanegara

GARUT  – Kabupaten Garut di Provinsi Jawa Barat hingga saat ini dikenal sebagai daerah yang memproduksi berbagai jenis hasil bumi, salah satunya memproduksi gula aren atau kawung dari bahan baku air nira yang diambil dari pohon aren (Arenga pinnata).

Dinas Pertanian Kabupaten Garut menilai gula aren memiliki potensi ekonomi yang cukup bagus ditambah bahan bakunya cukup berlimpah, tercatat luas pohon nira mencapai 2.866 hektare tersebar di 31 kecamatan dengan potensi produksinya mencapai 16 ribu ton gula padat per tahun.

Gula aren selama ini banyak diproduksi oleh masyarakat pedesaan di sekitar kawasan perkebunan yang dikelola secara tradisional mulai dari proses menyadap, pengolahan hingga menjadi gula batang yang siap dijual ke pasar lokal di Garut maupun luar kota.

Daerah yang selama ini menjadi sentra pembuatan gula aren tersebar di sejumlah kecamatan, sebut saja masyarakat di Kecamatan Cisewu wilayah ujung Garut bagian selatan, kemudian di Kecamatan Cihurip, dan daerah lainnya.

Gula aren yang selama ini masih diproduksi secara tradisional oleh masyarakat perkampungan Garut itu sudah memiliki nilai gengsi karena tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar lokal, maupun nasional, tapi sudah bisa tembus ke pasar mancanegara.

Sebut saja gula aren yang diproduksi oleh produsen gula aren Areniss yang sudah tumbuh kembang di Kabupaten Garut, dan telah mengenalkan produknya ke pasar mancanegara.

‘Areniss’ singkatan dari Aren Indonesia Sehat Sentosa itu merupakan produk yang dikelola oleh Sentosa pria kelahiran Garut yang memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai karyawan perbankan di Jakarta untuk menjadi wirausaha di sektor gula aren.

Pria berusia 47 tahun itu memiliki semangat untuk mengangkat pamor gula aren sebagai produk kampung ke kancah pasar global, alasannya produk itu memiliki nilai sebagai bahan pemanis alami yang tidak hanya disenangi oleh orang Indonesia, tapi juga luar negeri.

Gula aren yang banyak diproduksi oleh masyarakat Garut itu sudah cukup diakui oleh pasar untuk kebutuhan pangan olahan, maupun menjadi pemanis untuk minuman kopi maupun jenis minuman lainnya.

Pria yang akrab disapa Jo Sentosa atau Osa itu mulai meniti usahanya pada tahun 2010, semangatnya itu dilakukan bersama dengan saudaranya dan juga masyarakat petani Garut yang memiliki semangat untuk mengangkat produk gula aren lebih baik dan menguntungkan.

Awal memilih terjun di dunia usaha gula aren itu karena melihat Kabupaten Garut memiliki potensi bahan baku yang melimpah, dan perlu dikembangkan pemasarannya yang tidak hanya di pasar lokal tapi ke luar kota.

Usaha gula arennya terus berkembang, hingga pada tahun 2012 membuat pabrik pembuatan gula aren di Kecamatan Cisewu, Cihurip, dan Cilawu, tujuannya membantu meringankan biaya produksi petani sekaligus meningkatkan produksi gula aren untuk memenuhi permintaan pasar.

Gula aren yang diproduksinya tidak hanya gula batang atau cetak, melainkan sudah berinovasi membuat gula bubuk atau gula semut, kemudian jenis gula lainnya yaitu berupa cair yang lebih praktis.

Diminati Eropa

Gula aren yang diproduksi di Garut itu ternyata tidak hanya diminati oleh masyarakat dalam negeri, ternyata bangsa Eropa sudah mengetahui keistimewaan gula aren itu atau yang seringkali mereka sebut adalah “palm sugar” berbentuk serbuk untuk konsumsi campuran makanan maupun minuman.

Osa menceritakan awal mengetahui masyarakat Eropa tertarik dengan gula aren itu setelah dirinya mengikuti program pelatihan ekspor selama satu tahun yang diselenggarakan oleh Kantor Bank Indonesia Wilayah Jawa Barat tahun 2015.

Areniss satu-satunya produsen gula aren dari Jawa Barat bersama pelaku dari berbagai jenis produk UMKM lainnya telah lolos seleksi untuk ikut pelatihan, kemudian sebagai akhir pelatihan itu diajak ke Eropa untuk bertemu mitra-mitra importir.

Kunjungan ke luar negeri itu ternyata telah membuka jalan bagi pelaku UMKM di Jawa Barat, termasuk produsen gula aren Areniss yang bisa mengenalkan produk gula aren ke sejumlah negara di Eropa yakni Belgia dan Belanda.

“Bangsa Eropa tertarik karena gula aren bahasa sananya ‘palm sugar’ adalah pemanis alami yang paling bagus, aman, dan sehat, kadar glikemiknya paling rendah, jadi paling aman dikonsumsi oleh manusia,” kata Osa.

Dalam kunjungannya itu, bangsa Eropa tertarik dengan produk gula aren, namun dalam perdagangan antar negara khususnya untuk produk pangan ada persyaratan yang cukup ketat dan harus dipenuhi oleh produsen.

Osa menyampaikan pasar Eropa mempersilakan produk Jawa Barat termasuk gula aren untuk melakukan ekspor dengan syarat harus meningkatkan kapasitas produknya termasuk sudah mengantongi sertifikat sebagai bukti produk pangan tersebut aman dikonsumsi.

Peryaratan itu sampai saat ini masih menjadi kendala untuk melakukan ekspor, meski begitu Osa bersama orang yang bergabung di Areniss akan berusaha mengambil peluang pasar Eropa itu dengan harapan gula aren produk Areniss bisa dikenal dan digemari oleh bangsa luar.

Digitalisasi Pasar

Selama ini gula aren Areniss memang belum bisa melakukan ekspor dengan menggunakan nama sendiri, namun sepulangnya kunjungan dari Eropa itu, kata Osa, telah mendorong semangat untuk bisa membuka peluang pasar di negara lain.

Osa menyampaikan upaya promosi telah dilakukan, termasuk melakukan promosi dan penjualan secara digital juga sudah dijalani, cara digitalisasi itu ternyata cukup efektif untuk mengenalkan gula aren ke pasar mancanegara.

Perjuangan Osa membawa nama Areniss itu mulai mendekati puncak untuk menembus pasar ekspor melalui bantuan perusahaan eksportir di tahun 2019 sampai sekarang, salah satunya berhasil memenuhi permintaan pasar untuk negara Qatar.

Meski produknya diganti dengan nama perusahaan eksportir, tidak menggunakan nama Areniss, menurut Osa cara tersebut sudah cukup baik untuk awal menuju ekspor, setidaknya produknya sudah bisa diterima oleh pasar luar, dan menjadi pelajaran untuk ke depannya.

Terlebih saat ini di era digital bisa lebih mudah dan luas lagi untuk penjualan produk gula aren ke berbagai negara dengan cara menjual secara perorangan.

“Kita mesti aktif, mesti kreatif menggunakan tiap peluang yang ada untuk bisa ke market, ditambah potensi digital sangat besar, kita bisa menyampaikan jelas aktivitas kita secara digital ke global,” katanya.

Dukungan

Pemerintah Kabupaten Garut sudah melihat potensi gula aren tersebut yang produksinya tersebar dan dilakukan secara tradisional oleh masyarakat pedesaan.

Kepala Bidang Perkebunan pada Dinas Pertanian Kabupaten Garut Ardhy Firdian menyatakan gula aren merupakan kegiatan masyarakat desa yang secara turun-temurun terus dilakukan sampai saat ini untuk memenuhi kebutuhan ekonominya.

Bahan baku gula aren di Garut, kata Ardhy, cukup melimpah, dan pemerintah daerah terus menjaga kegiatan usaha dari sektor perkebunan itu karena sudah menjadi keunggulan produk Garut yang memiliki ciri khas tersendiri yaitu manis dan harum.

Upaya mendorong gula aren ke pasar mancanegara, memang membutuhkan persyaratan tertentu, salah satunya produsen gula aren harus memiliki sertifikat pangan untuk menjamin keamanan produk pangan tersebut.

Pasar luar negeri, kata Ardhy, memang selektif, terlebih mereka ingin produk pangan itu mulai dari bahan baku sampai menjadi produk siap jual harus dilakukan secara organik tidak boleh tercampur dengan bahan kimia.

Ia menyampaikan pemerintah daerah siap untuk memfasilitasi pelaku usaha gula aren agar mendapatkan sertifikat pangan, yang tentunya harus terlebih dahulu melakukan usulan kepada pemerintah.

“Ya kita bisa upayakan, tinggal tergantung apakah memang ‘full’ dibiayai oleh pemda atau pihak pengelola sendiri, atau melakukan swadaya,” katanya.

Selain dukungan dari pemerintah daerah, upaya pengembangan produk gula aren juga telah mendapatkan dukungan dari Kantor Bank Indonesia dengan memberikan pelatihan ekspor mulai dari pengembangan produk sampai mengenalkan ke pasar mancanegara di Eropa.

Bank Indonesia khususnya Kantor Perwakilan Jawa Barat tidak hanya berhenti di sana, hingga saat ini terus berusaha melakukan pengembangan produk UMKM di Jawa Barat, meliputi pengembangan produk ‘volatile food’, ‘local economic development’ serta Wirausaha Bank Indonesia (WUBI).

“Pengembangan UMKM yang dilakukan oleh Bank Indonesia Jawa Barat merupakan bagian dari lima kunci untuk mendorong pemulihan ekonomi Jawa Barat yang secara konsisten kami rekomendasikan, dukung, dan upayakan bersama pemerintah dan seluruh komponen Pentahelix terkait,” kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Barat Herawanto saat jumpa pers secara daring beberapa waktu lalu. (Ant)

Lihat juga...