Banjir di Kota Maumere Diduga karena Banyaknya Drainase Rusak

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Banjir yang menggenangi rumah warga di Kelurahan Waioti, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, sejak Sabtu (20/11/) hingga Minggu (21/11), diisnyalir karena banyaknya drainase yang rusak.

“Pemerintah perlu segera memperbaiki saluran air di Kota Maumere. Banyak yang sudah rusak dan perlu ada pelebaran lagi,” kata mantan ketua Forum Peduli Penanggulangan Bencana (FPPB) Kabupaten Sikka, Carolus Winfridus Keupung, saat dihubungi, Rabu (24/11/2021).

Win, sapaannya, menyebutkan banyak drainase yang sudah tertutup akibat pembangunan gedung, seperti di depan pertigaan Lorong Angkasa di Jalan Negara Trans Flores dan sebelah barat SPBU Waioti.

Kondisi tersebut diperparah dengan adanya pembangunan tanggul penahan gelombang yang tidak menyisakan ruang yang luas untuk jalur air, agar bisa mengalir ke laut.

“Sempitnya drainase dan tertutupnya drainase membuat perumahan warga di pinggir pantai di Kelurahan Waioti otomatis akan terendam banjir saat terjadi hujan dengan intensitas tinggi,” ujarnya.

Mantan Ketua Forum Peduli Penanggulangan Bencana (FPPB) Kabupaten Sikka, NTT, Carolus Winfridus Keupung, saat ditemui di kantornya di Kota Maumere, Kamis (18/11/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Win menyarankan, agar dana pinjaman daerah yang diajukan Pemerintah Kabupaten Sikka ke PT. SMI sebaiknya dialokasikan untuk membenahi drainase di dalam kota Maumere.

Dengan begitu, pemerintah tidak perlu mengeluarkan dana banyak untuk membantu warga setiap kali terjadi banjir yang membuat rumah warga di Kota Maumere rusak dan terendam.

“Lebih bermanfaat dana pinjaman daerah dipergunakan memperbaiki atau memperlebar drainase di Kota Maumere, agar setiap kali terjadi hujan lebat rumah warga tidak tergenang atau rusak,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris BPBD Sikka, Paskalis Pacelie, kepada wartawan menyebutkan ratusan rumah warga tersebut terendam banjir pascahujan dengan intensitas tinggi mengguyur Kota Maumere selama dua hari.

Paskalis menambahkan, tim reaksi cepat dari BPBD Sikka segera meluncur ke lokasi guna melakukan pemantauan, pendataan dan mengevakuasi warga ke tempat yang lebih aman.

“Kami langsung berkoordinasi dengan Dinas Sosial serta pihak Kelurahan Waioti dan Kecamatan Alok Timur, untuk bersama-sama melakukan penanganan korban bencana banjir ini.

Paskalis menyebutkan, terdapat 103 Kepala Keluarga (KK) dengan 451 jiwa yang terdampak akibat banjir setinggi sekitar 50 sentimeter tersebut.

Pihaknya juga berkordinasi dengan Pastor Paroki St. Thomas Morus, agar lokasi lingkungan Gereja Waioti bisa dipergunakan sebagai posko pengungsian untuk sementara waktu.

“Kami menurunkan10 personel tim reaksi cepat dari BPBD dengan mengerahkan 2 unit mesin pompa air, untuk menyedot air dan membuangnya ke laut. Selama 2 jam, air mulai surut dan warga bisa beraktivitas kembali,” sebutnya.

Lihat juga...