Baru 82 Persen Warga Sikka Miliki Akses ke Jamban Layak

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Dari 321.953 jiwa yang tersebar di 21 kecamatan dengan 147 desa dan 13 kelurahan, ternyata masih banyak rumah warga Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang tidak memiliki jamban.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, NTT, Petrus Herlemus saat ditemui di kantornya di Kota Maumere, Jumat (19/11/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Hingga Oktober 2021, sebanyak 77,6 persen rumah tidak memiliki jamban,” sebut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, NTT, Petrus Herlemus saat ditemui di kantornya di Kota Maumere, Jumat (19/11/2021).

Petrus menerangkan, 88,8 persen warga sudah memiliki akses ke jamban dan baru 82 persennya memiliki akses ke jamban layak.

Ia menyebutkan, sekitar 59 persen jamban yang ada, masuk kategori tidak layak, sehingga pihaknya mencoba untuk memperbaiki jamban agar sesuai kategori kesehatan.

Untuk itu tegasnya, kloset yang tidak memenuhi syarat serta septi tank akan diganti sehingga bisa masuk kategori jamban yang layak.

“Kita akan melakukan perbaikan pada fasilitas jamban yang dimiliki masyarakat agar layak dan memenuhi standar kesehatan,” ujarnya.

Petrus menambahkan, dari 21 kecamatan, baru 3 kecamatan sudah masuk kategori Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dan dari 147 desa dan 13 kelurahan baru 58 desa dan kelurahan sudah masuk kategori STBM atau 36,25 persen.

Ia tambahkan, sementara desa dan kelurahan yang sudah Open Defecation Free (ODF) atau Stop Buang Air Besar Sembarangan sebanyak 64 desa atau 40 persen.

“Beberapa desa yang akses jambannya sudah di atas 80 persen kita desak untuk mendeklarasikan STBM,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas Kewapante, Theresia Angelina Bala menyebutkan, di wilayahnya terutama desa-desa yang berada di pegunungan memang dan sulit akses air bersih.

Theresia menyebutkan, akses jamban di Puskesmas Kewapante yang membawahi 8 desa sebesar 75,3 persen sementara akses ke jamban yang layak baru mencapai 64,3 persen saja.

“Memang akses air bersih menjadi kendala karena banyak desa yang masih mengandalkan air bersih dari bak Penampung Air Hujan (PAH). Air hujan menjadi konsumsi warga sehari-harinya karena tidak ada jaringan air bersih di desa,” ungkapnya.

Lihat juga...