Budaya Sako Klulur Masyarakat Tana Ai Sikka Mulai Pudar

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Sako Klulur merupakan kegiatan mencangkul kebun secara bersama-sama atau bergotong royong, dalam budaya masyarakat Tana Ai di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, yang kini perlahan mulai memudar.

“Budaya Sako Klulur ini perlahan mulai hilang akibat perkembangan zaman,” sebut Yosefus Polikarpus, warga etnis Tana Ai di Desa Nebe, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, saat ditemui di rumahnya, Minggu (7/11/2021).

Yosef, sapaannya, menjelaskan saat ini ketika mulai musim hujan dan hendak membuka kebun dan mengolah lahan, maka petani harus membayar tenaga kerja.

Ia menjelaskan, satu orang dikenakan biaya Rp40 ribu per hari, di mana pemilik kebun harus menyediakan makan siang dan minum teh atau kopi pada pagi atau sore hari.

Lanjutnya, biaya mencapai Rp50 ribu per orang bila tidak ada makan siang, di mana tenaga kerja membawa makanan sendiri, dan banyaknya tenaga kerja yang dibutuhkan tergantung kepada pemilik lahan.

Petani di Desa Nebe, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, NTT, Yosefus Polikarpus, saat ditemui di Kampung Wairbou, Minggu (7/11/2021). -Foto: Ebed de Rosary

“Ada juga yang membentuk kelompok beranggotakan beberapa orang, sehingga membersihkan lahan kebun dilakukan bergilir di lahan masing-masing anggota tanpa ada bayaran,” ungkapnya.

Yosef menyebutkan, dahulu saat memasuki musim hujan, pemilik lahan hanya mengundang tetangga, warga di kampung atau di dalam sukunya dan mereka datang membantu.

Ia menyesalkan, saat ini semuanya mulai hilang dan perlahan mulai digantikan dengan mengupah atau membayar tenaga kerja, sehingga kasihan kalau ada warga yang kurang mampu.

Budaya gotong royong ini pun kerap disebut juga dengan istilah Sako Jung atau Seng di masyarakat Kabupaten Sikka lainnnya.

Teater Refrein SMASK John Paul II Maumere, mencoba melestarikan tradisi ini lewat pementasan Sako Jung di halaman sekolah itu, Sabtu (6/11/2021).

Kepala Sekolah SMASK John Paul II Maumere, RD Fidelis Dua, menyebutkan pemetasan teater ini merupakan sebuah pesan untuk merevitalisasi budaya Sako Jung dalam masyarakat.

Romo Fidel, sapaannya, mengatakan budaya ini ada sejak zaman dahulu di dalam masyarakat Kabupaten Sikka, dan perlu diangkat kembali karena memiliki spirit dan makna yang dalam.

“Pementasan ini ingin mengangkat kembali budaya Sako Jung ini, yang menjunjung tinggi semangat gotong royong dalam masyarakat. Warisan leluhur ini harus menjadi spirit utama dalam kehidupan bersama,” harapnya.

Lihat juga...