Budidaya Metode Sambung Pucuk Hasilkan Produksi Berlipat

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Peningkatan produksi komoditas pertanian dilakukan petani dengan sejumlah metode, salah satunya sambung pucuk atau kerap dikenal grafting pada tanaman buah produktif.

Satimin, petani di Bedeng 5 B, Kecamatan Lampung Tengah, Senin (15/11/2021). Foto: Henk Widi

Satimin, petani di Bedeng 5 B, Kecamatan Trimurjo, Kabupaten Lampung Tengah melakukan budidaya tamanan buah jenis alpukat, mangga pakel, nangka mini, jeruk kunci. Berbagai jenis buah tersebut jadi komoditi pertanian ekonomis.

“Alpukat dengan sistem sambung pucuk menghasilkan buah yang lebat dan tanaman memiliki ketinggian kurang dari lima meter dengan masa buah pertama usia tiga tahun, Buah lebih banyak dengan ukuran besar untuk pasokan ke sejumlah pasar dan pedagang es buah,” terang Satimin saat ditemui Cendana News, Senin (15/11/2021).

Satimin bilang peningkatan mutu atau kualitas tanaman sangat bergantung pada bibit dengan kualitas indukan yang bagus. salah satunya diperoleh dari penyedia bibit bersertifikat. Selanjutnya dengan ilmu metode sambung pucuk memakai alat pisau, tali rafia, polybag dan media tanam dapat memperbanyak untuk mendapatkan bibit berkualitas.

Ia mengatakan, salah satu varietas tanaman produktif diperoleh dari nangka. Jenis nangka mini yang sebagian digunakan untuk sayuran dikembangkan memakai sambung pucuk.

Pada bibit awal ia perbanyak memakai biji. Namun agar menghasilkan pohon dengan produksi lebat dibutuhkan entres atau pucuk berkualitas. Pucuk diperoleh dengan memakai sistem potong lalu disambung.

“Sistem cangkok susu juga bisa dilakukan pada batang utama lalu setelah keluar akar bisa dipindahkan ke polybag,” terangnya.

Petani lain Mifranto, warga di Desa Tempuran, Kecamatan Trimurjo mengatakan, ia menerapkan sistem sambung pucuk pada tanaman jambu air varietas madu deli hijau, madu deli merah. Selain itu juga dikembangkan pada sebagian tanaman kakao, jeruk kunci, jeruk peras dan jambu kristal.

Tanaman kakao, jeruk peras sebut Mifranto alami peningkatan produksi. Kakao yang menghasilkan buah dalam jumlah banyak dipanen setiap dua hari. Sebab melalui sistem sambung pucuk jenis kakao yang sudah tidak produktif bisa diperbarui dengan ranting jenis lain.

“Kakao saat ini alami peningkatan produksi namun hama penyakit jamur dan tupai mengurangi hasil panen,” ulasnya.

Harga biji kakao kering pada level petani sebutnya masih berkisar Rp18.000 hingga Rp20.000 per kilogram. Regenerasi tanaman kakao tua yang tidak produktif dilakukan dengan sistem sambung pucuk.

Hasil pertanian dari kebun sebutnya menjadi komoditas sampingan selain sayuran dan padi. Mifranto menyebut hasil pertanian dari kebun warga menjadi sumber pendapatan untuk pemenuhan kebutuhan ekonomi.

Lihat juga...