Disnakkan Boyolali Galakkan Pencegahan Penyakit Sapi

BOYOLALI  – Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakkan) Kabupaten Boyolali Provinsi Jawa Tengah melaksanakan pengecekan kesehatan terutama hewan ternak sapi perah untuk pencegahan dan pemberantasan penyakit “Brucellosis” di wilayahnya.

“Kegiatan cek pencegahan penyakit Brucellosis tersebut tugas dari Kementerian Pertanian RI khususnya untuk sapi perah,” kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) Disnakkan Kabupaten Boyolali, Afiany Rifdania, saat kegiatan pencegahan dan pemberantasan penyakit brucellosis ternak sapi, di Desa Keposong, Kecamatan Tamansari Boyolali, Jumat.

Kegiatan tersebut, tambahnya, dilakukan karena populasi sapi perah di Kabupaten Boyolali hingga kini mencapai 96.000 ekor, atau 60 persen sapi perah berasal dari wilayahnya terbanyak di Provinsi Jateng.

Menurut dia, populasi sapi perah yang melimpah tersebut, penyakit brucellosis harus dicegah sedini mungkin. Karena, dapat menyebabkan abortus terutama pada sapi perah yang terjadi di kebuntingan trisemester ketiga atau sekitar kebuntingan enam bulan ke atas.

“Dalam setahun itu, tidak akan menghasilkan pedet karena terkena penyakit ini. Penyakit Brucellosis juga bersifat menular dari hewan ke manusia. Hal ini, menjadi salah satu tanggung jawab kami terutama di bidang Keswan untuk menanggulangi penyakit ini,” katanya.

Penyakit Brucellosis juga bisa menular ke manusia melalui cairan atau jaringan yang keluar saat sapi perah melahirkan, selain itu juga karena konsumsi susu sapi segar. Sehingga, pihaknya mengimbau penggemar susu sapi segar untuk melakukan pasteurisasi susu yakni dengan pemanasan bertingkat dengan suhu tertentu.

Dia mengatakan apabila ditemukan kasus penyakit brucellosis, segera ditangani melalui pelaksanaan tes dan kemudian dipotong paksa. Sapi perah saat dites terbukti positif mengidap penyakit Brucellosis, pemilik sapi akan menerima kompensasi sebesar Rp10 juta setiap ekor.

“Boyolali sejak 2015 konsisten untuk mengganti ternak dengan total jumlah anggaran sekitar Rp350 juta. Hal itu, digunakan untuk pengganti dari ternak yang terkena brucellosis atau disembelih paksa,” katanya.

Kabupaten Boyolali, pada 2015 hingga 2021 kasus sapi perah penyakit brucellosis ada sekitar 123 kasus. Melalui tes CFT, ditemukan 119 kasus dan total ada 43 sapi yang disembelih paksa atau sekitar 36 persen dari kasus yang ditemukan.

Oleh karena itu, Kabupaten Boyolali saat ini sedang mengerjakan 3.100 sampel dalam rangka untuk Jawa Tengah bebas brucellosis hingga 2025 yang dicanangkan oleh Kementerian Pertanian. Harapannya Boyolali ini, menjadi role mode untuk Jawa Tengah.

Sementara sampel hewan sapi yang sedang cek kesehatan untuk mencegah penyakit Brucellosis ada di lima desa di Kabupaten Boyolali. Yakni Desa Madu, Singosari, Karangnongko di Kecamatan Mojosongo, Desa Banyuanyar (Ampel), dan Desa Keposong (Tamansari). (Ant)

Lihat juga...