Ditemukannya Virus SARS COV2 di Sperma Masih Butuh Penelitian Lanjutan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Penelitian terkait virus SARS COV2 masih terus dilakukan untuk mempelajari lebih dalam karakteristik maupun mekanisme penyebaran virus ini di dalam tubuh. Salah satu hasilnya adalah ditemukannya di sperma penyintas COVID 19 di Indonesia.

Peneliti Prof Nidom Foundation (PNF) DR. (C) M. Khaliim Jati Kusala menyatakan, penemuan virus SARS COV2 pada spermatozoa pasien penyintas COVID 19 di Indonesia, setelah adanya penelitian panjang sejak akhir tahun 2020 oleh kerja sama riset Tim Prodi Spesialis Andrologi Universitas Airlangga RSU Dr. Soetomo dengan Prof Nidom Foundation (PNF).

“Hasil penelitian ini sudah dipublikasikan pada jurnal internasional medriv pada 21 Oktober 2021,” kata Khaliim dalam siaran online, Jumat (5/11/2021).

Riset dilakukan pada penyintas COVID 19 yang berusia antara 20 hingga 50 tahun, dengan rata-rata umur relawan adalah 37,7 tahun.

“Semua relawan merupakan orang yang tinggal di Indonesia,” ucapnya.

Salah seorang peneliti PNF, dr. Astria Novitasari menyatakan 2,94 persen positif memiliki virus pada spermatozoanya dan ditemukan pada pasien positif yang tidak menunjukkan gejala atau hanya gejala ringan dari paparan COVID 19. Serta ada 17,64 persen yang hasilnya belum dapat disimpulkan.

“Banyak hal yang bisa menyebabkan keberadaan virus ini pada sperma. Selain faktor teknis, varian virus juga mengambil peran sebagai penyebabnya,” kata Astria.

Ia menjelaskan masuknya virus dalam tubuh manusia bergantung pada aktivitas ACE 2 Receptor dan Temperce.

Peneliti PNF, dr. Astria Novitasari menyampaikan hasil penelitian pendahuluan terkait keberadaan virus SARS COV2 pada sperma penyintas COVID 19 di Indonesia, dalam siaran online PNF, Jumat (5/11/2021) – Foto Ranny Supusepa

“Virus yang masuk ke tubuh ini, melalui saluran pernapasan dan menyebar hingga ke sistem lain dalam tubuh. Salah satunya sistem reproduksi pria,” urainya seraya menunjukkan bagan pergerakan virus di tubuh manusia.

Ia menegaskan, hasil penelitian ini masih hasil pendahuluan. Masih diperlukan penelitian lanjutan yang akan menjawab pertanyaan lainnya.

“Yaitu terkait perambatan virus apakah dari saluran pernapasan ataukah ada mekanisme lainnya, apakah setiap varian virus memiliki pola yang sama, dan apakah ada kemungkinan penularan melalui transeksual seperti pada kasus HIV,” urainya lebih lanjut.

Astria menyebutkan, saat ini yang perlu dilakukan oleh masyarakat adalah terus menerapkan protokol kesehatan secara ketat dan terus melakukan edukasi pada masyarakat terkait virus SARS COV2.

“Perlu dipertimbangkan juga, pemeriksaan potensi paparan melalui nasofaring dan sperma,” pungkasnya.

Lihat juga...