Dokter Miliki Peran Strategis Terjemahkan Pengetahuan Terkait Rempah

Seorang pekerja menunjukkan fuli kering di pengepul rempah UD Tekun, Kota Ambon, Maluku, Kamis (5/8/2021). Fuli atau selaput tipis biji pala merupakan salah satu komoditas rempah andalan di Provinsi Maluku untuk ekspor yang harganya mencapai Rp250 ribu per kilogram di tingkat pengepul. -Ant

JAKARTA – Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), mendorong eksplorasi lebih jauh rempah-rempah–yang merupakan kekayaan alam Indonesia–untuk kepentingan dunia kesehatan.

“Tidak hanya obat, untuk kecantikan, untuk resep makanan, dan itu yang belum kita eksplorasi lebih jauh. Kami berharap, peran dari dokter melalui PDPOTJI (Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia) menjadi strategis ke depannya,” kata Sekretaris Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek, Fitra Arda.

Dalam webinar “Membangkitkan Kejayaan Rempah Indonesia dan Peran Dokter di Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Depan”, Sabtu, Fitra mengatakan, sejak dulu masyarakat Indonesia telah mengetahui cara memanfaatkan tanaman mulai dari akar hingga daun untuk berbagai khasiat, yang ilmunya diturunkan kepada generasi berikutnya lewat naskah maupun tradisi lisan.

“Selama ini kita belum mengolah kekayaan masa lalu kita (rempah) secara maksimal,” lanjutnya.

Penggunaan rempah untuk keperluan sehari-hari telah tercatat dalam relief di Candi Borobudur. Pengetahuan masa lalu itu direkonstruksi lagi melalui riset dan kajian, agar kekayaan alam ini bisa dimanfaatkan dalam kehidupan masa kini.

Dia mengatakan, dokter dan lembaga penelitian punya peran strategis menerjemahkan pengetahuan masa lalu, dengan mengandalkan tanaman-tanaman Indonesia, termasuk rempah-rempah untuk memecahkan dan mencari jalan keluar dari masalah yang dihadapi.

“Kita ingat resep nenek berkaitan dengan kuliner atau obat, kalau di masa lalu, mereka bilang ‘secukupnya’, itu yang perlu terjemahkan ke bahasa ilmiah,” katanya.

Fitra menuturkan, Indonesia diberi kekayaan alam yang melimpah ruah berupa rempah-rempah yang menciptakan Jalur Rempah, sebuah rute perdagangan dunia yang juga melahirkan peradaban global. Jalur rempah membuktikan Nusantara memiliki peran penting dalam pelayaran dan perniagaan di dunia.

Jalur rempah bukan sekadar rute perdagangan, tetapi juga jalur kebudayaan yang melahirkan pemikiran dan pertukaran budaya, yang mempengaruhi kehidupan masa kini. Jalur rempah diyakini menjadi sarana pertukaran budaya yang memperkuat kebudayaan Indonesia.

“Dari jalur rempah ini, Indonesia mengenal suku-suku yang ada di Nusantara dan bangsa asing, kemudian terjadi asimilasi dan adaptasi yang berdampak kepada peradaban yang masih kita lakoni,” kata dia.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, lanjut Fitra, siap untuk bekerja sama dengan pihak yang ingin meneliti pengetahuan masa lalu untuk dimanfaatkan dalam kehidupan masa kini, dengan cara berbagi data serta pengetahuan mengenai rempah-rempah. (Ant)

Lihat juga...