Ekonom : Kenaikan Harga Minyak Goreng Sulit Dihindari

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Ekonom Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. Ir. Bayu Krisnamurthi MS mengatakan, kenaikan harga minyak goreng di Indonesia sulit dihindari karena harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) yang menjadi bahan baku utama juga mengalami kenaikan. iIndikasi krisis energi di beberapa belahan dunia dan juga proyeksi produksi sawit di Malaysia yang membaik membuat harga CPO belum akan turun.

“Padahal, Indonesia merupakan penghasil sawit terbesar di dunia, tapi kenaikan harga minyak goreng sulit dihindari, karena dampak naiknya harga CPO,” ujar Bayu, kepada Cendana News saat dihubungi Selasa (2/10/2021).

Disebutkan, kenaikan harga minyak goreng ini akan menambah beban bagi masyarakat kelas menengah ke bawah. Sebagian konsumen terutama yang berpendapatan rendah akan keberatan dengan kenaikan harga. Begitu juga dengan pelaku Usaha Kecil Menengah (UKM) yang menggunakan minyak goreng seperti pedagang gorengan.

“Biaya yang harus mereka keluarkan untuk mencukupi kebutuhan otomatis lebih besar dari biaya sebelumnya. Beban hidup mereka jadi lebih berat,” tukasnya.

Ia menghimbau perlu adanya intervensi pemerintah untuk menolong masyarakat tingkat bawah.

“Intervensinya, pemerintah bisa berikan bantuan sosial (bansos) bagi masyarakat kelas bawah dan pelaku UKM. Agar mereka dapat minyak goreng dengan harga murah, meringankan bebannya,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI), Sahat Sinaga mengatakan, kenaikan harga minyak goreng disebabkan adanya kenaikan
CPO Indonesia.

“Saat ini, harga CPO di Indonesia masih berbasis harga CPO CiF rotrerdam. Jadi, kalau harga CiF rotterdam mengalami kenaikan, maka harga CPO lokal juga naik,” ujar Sahat, kepada Cendana News saat dihubungi, Selasa (2/11/2021).

Ironisnya kata dia, saat ini industri penghasil minyak goreng di Indonesia tidak mempunyai hubungan usaha dengan perkebunan sawit.

Maka itu, harga jual yang dipasarkan oleh industri penghasil minyak goreng, sama dengan harga CPO yang sudah ditambahkan dengan biaya olah, biaya kemasan, dan biaya ongkos angkut.

“Harga jual yang mereka lakukan sesuai dengan kondisi lapangan. Saat ini, produsen minyak goreng sudah tidak bisa lagi mengikuti harga patokan yang ditetapkan oleh regulator atau pemerintah,” pungkasnya.

Lihat juga...