Jeli Melihat Peluang, Ellya Bidik Pasar Strap Masker Buatan Tangan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Jeli melihat peluang, salah satu kunci keberhasilan wirausaha untuk memulai usaha mereka. Termasuk seperti yang dilakukan Ellya Amaliyah, yang mampu mencari peluang usaha di tengah pandemi covid-19.

“Selama pandemi covid-19, masker menjadi salah satu kebutuhan mendasar, yang selalu diperlukan. Itu yang saya lihat, untuk kemudian terjun di usaha pembuatan strap atau kalung masker, untuk mempermudah penggunaan sekaligus mempercantik penampilan masker,” paparnya, saat ditemui di Semarang, Selasa (2/11/2021).

Dijelaskan, permintaan strap masker cukup tinggi, apalagi dalam pembuatannya tersebut dirinya menerima pesanan khusus. Artinya konsumen bisa meminta desain, serta bahan yang digunakan, sesuai dengan keinginan mereka.

“Saat ini masker tidak hanya menjadi sebuah kebutuhan, namun juga bagian dari trend atau fashion. Misalnya saya ingin memakai yang senada dengan seragam yang saya kenakan, maka strap tali masker yang dibuat juga bisa senada, terutama dari segi warna,” tambahnya.

Tidak hanya itu, karena bisa menyesuaikan permintaan konsumen, bahan untuk pembuatan strap masker juga bisa diganti. Meski pada umumnya, menggunakan manik-manik dari polimer dengan aneka bentuk dan warna.

“Termasuk juga untuk konsumen cowok atau cewek, bisa disesuaikan gaya strap maskernya. Untuk cowok umumnya desain lebih sederhana, dengan warna-warna gelap seperti hitam atau abu-abu. Sementara untuk cewek, umumnya lebih ramai dari segi disain. Termasuk juga penggunaan warna yang lebih berani, atau warna -warni,” tambahnya.

Demikian juga untuk segmen anak-anak, umumnya memilih menggunakan bahan yang lucu, seperti bentuk buah-buahan, bunga, resin atau gambar lucu, dan lainnya. Termasuk juga bisa diberi nama.

Strap masker buatan tangan tersebut dihargai Rp25 ribu per buah, sementara untuk yang kustom atau desain sesuai keinginan pembeli, harganya tidak terpaut jauh, Rp 30 ribu.

“Namun kustom tersebut bisa saja berubah, tergantung dengan jenis bahan yang digunakan. Jika bahannya mahal, tentu akan menyesuaikan,” tandasnya.

Ellya mengaku usaha strap masker tersebut, justru awalnya digagas oleh sang anak.

“Jadi awalnya anak saya yang usul, karena waktu luangnya cukup banyak, dari pada tidak ada kegiatan, dia minta dibelikan manik-manik untuk dibuat strap masker. Meski masih sekolah, namun lebih banyak di rumah, karena waktu itu masih sekolah online,” ungkap Ellya.

Dari sana kemudian usaha tersebut berkembang, permintaan juga sudah cukup tinggi, antara 50-60 strap masker per minggu.

Saat ini, dirinya juga sudah memiliki satu reseller atau penjual ulang di wilayah Solo.

“Pemintaan semakin berkembang. Rencana terdekat ini, saya juga mau titip jual di salah satu gerai di pusat perbelanjaan di Kota Semarang. Mudah-mudahan dengan cara ini, penjualan juga semakin meningkat,” tandasnya.

Selain penjualan secara langsung ke konsumen, Ellya juga memanfaatkan media sosial untuk berjualan. Termasuk sering berbagi informasi produk baru di grup komunitas.

“Saya perkenalkan juga lewat Instagram @Anak.Kerajinan, serta grup-grup komunitas, dengan harapan produk ini semakin dikenal luas,” ucapnya lagi.

Sementara, salah seorang konsumen strap masker, Saut Situmorang mengaku, stap masker dibutuhkan untuk mempermudah aktivitas.

“Misalnya saja saat kita makan, otomatis harus lepas maker, daripada bingung mau ditaruh dimana, dengan strap masker ini cukup dilepas, dan tergantung di leher,” terangnya.

Tidak hanya itu, penggunaan strap masker juga memudahkan dalam beraktivitas, tanpa takut terlepas.

“Jadinya lebih nyaman saja. Selain itu harganya juga relatif terjangkau dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan,” pungkasnya.

Lihat juga...