Kadis Kesehatan Sikka Paparkan Tugas Sahabat Sehat

Editor: Makmun Hidayat

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus di SCC Kota Maumere, Jumat (29/10/2021). -Foto: Ebed de Rosary

MAUMERE — Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT) membuat terobosan dengan melaksanakan program Sahabat Sehat guna menekan berbagai masalah kesehatan di wilayah ini.

Setiap petugas yang berperan sebagai Sahabat Sehat memiliki tugas-tugas yang harus dijalankan selama melakukan pendampingan pada maksimal 70 Kepala Keluarga yang menjadi tanggung jawabnya.

“Terdapat 14 tugas dan kewajiban yang harus dijalankan oleh seorang petugas Sahabat Sehat di wilayah kerjanya,” sebut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Petrus Herlemus saat dihubungi, Jumat (5/11/2021).

Petrus menyebutkan, Sahabat Sehat harus mendata semua sasaran program pada keluarga binaan yang menjadi tanggung jawabnya meliputi data balita, ibu hamil, remaja dan kelahiran. Selain itu, sebutnya, mendata penderita penyakit, kepesertaan jaminan kesehatan, penyakit menular maupun tidak menular dan program kesehatan.

Juga mendata pembangunan fisik bidang kesehatan yang diintervensi di wilayah kerja oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

“Wajib menganalisa masalah keluarga  binaan yang menjadi sasarannya  serta melakukan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE),” ujarnya.

Petrus menambahkan, juga mengisi data hasil pengukuran status gizi balita dalam  aplikasi Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat Secara Elektronik (ePPBGM).

Lanjutnya, memastikan bahwa semua balita yang berumur di bawah 24 bulan, balita Bawah Garis Merah (BGM) dan balita yang hasil pemantauan Berat Badan menurut umur selama dua bulan berturut-turut tidak naik berat badannya (Balita 2T).

Ia menyebutkan, balita 2T ini wajib diukur Panjang Badan (PB) dan Tinggi Badan (TB) setiap bulan sedangkan balita balita di atas 24 bulan wajib diukur PB atau TB pada bulan Februari dan Agustus.

“Harus memastikan dan terlibat dalam pelaksanaan operasi timbang pada bulan Februari dan Agustus (kegiatan pelayanan Posyandu) yang dilaksanakan pada tanggal 1 sampai 5,” ungkapnya.

Petrus menambahkan, selain itu dilanjutkan sweeping balita yang tidak timbang pada minggu kedua dan input data dalam aplikasi paling lambat minggu ketiga.

Juga sebutnya, memastikan data stunting ditarik oleh Tenaga Pelaksana Gizi (TPG) pada awal minggu pertama bulan Maret dan September dan dilaporkan kepada camat dan kepala desa per nama dan alamatnya (by name by address)

Tambah dia, memastikan ketersediaan alat ukur standar di setiap posyandu dan melaporkan kepada Koordinator Lapangan (Korlap) dan Kepala Puskesmas (Kapus).

Selain itu papaprnya, harus terlibat aktif dalam tim operasi timbang bersama lintas sektor di wilayah kerja masing-masing.

“Wajib melakukan evaluasi intervensi  perbaikan gizi balita stunting dan hasil intervensi dilaporkan rutin kepada Korlap dan Kapus. Wajib memastikan setiap remaja putri di wilayah binaan terlayani tablet tambah darah setiap minggu dan dilaporkan ke Korlap dan Kapus,” bebernya.

Pencetus Program Sahabat Sehat, Theresia Angelina Bala menerangkan, Sahabat Sehat juga wajib melakukan pemantauan jentik dan mengedukasi masyarakat untuk melaksanakan PSN 4M plus secara rutin setiap Minggu dan melaporkan  ke Korlap dan Kapus.

Theresia mengatakan, jika menemukan penderita panas, wajib membawa  ke Puskemas untuk ditangani (antisipasi DBD) serta melakukan evaluasi perkembangan kesehatan keluarga binaan yang menderita sakit.

Sahabat Sehat lanjutnya, wajib melaporkan data kesehatan ibu dan anak dan permasalahan kesehatan sasaran keluarga binaan kepada kepala desa atau lurah.

“Mereka wajib melaksanakan atau mempresentasikan atau mengikuti pertemuan evaluasi rutin program “Sahabat Sehat untuk Nian Tana” di tingkat desa dan Puskesmas. Juga pelaksanakan tugas kedinasan lainnya sesuai instruksi pimpinan,” jelasnya.

Lihat juga...