Karena Gengsi, Anak Muda di Sikka Sulit Diajak Bertani

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Seorang anak muda di Dusun Belawuk, Desa Nebe, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, yang terjun menjadi petani, mengaku kesulitan mengajak anak muda di desanya untuk bertani hortikultura.

Saat ditemui di kebunnya di Dusun Belawuk, Senin (1/11/2021), Kristianus Dalu Soge, mengatakan anak-anak muda setelah tamat SMA maupun kuliah atau putus sekolah, masih gengsi menjadi petani.

“Banyak anak muda yang hanya duduk-duduk saja di rumah atau bermain game di telepon genggam seharian. Mereka tidak mau saya ajak untuk menjadi petani hortikultura,” kata Kris, sapaannya.

Kris mengaku hanya mampu menghimpun belasan anak muda saja, agar bisa membuat kelompok tani yang beranggotakan anak-anak muda. Dirinya pun terpaksa mengambil orang-orang tua, namun berjiwa muda agar bisa menambah jumlah anggota kelompoknya menjadi 20 orang.

Meski demikian, masih ada anak muda yang terpengaruh omongan temannya, sehingga belum mau terjun ke kebun untuk menanam aneka tanaman hortikultura.

Lahan pertanian cabai keriting milik petani muda di Dusun Belawuk, Desa Nebe,Kecamatan Talibura,Kabupaten Sikka, NTT, Senin (1/11/2021). -Foto: Ebed de Rosary

“Desa kami sangat bagus untuk ditanami hortikultura karena airnya melimpah, dan ada saluran air permanen yang telah dibangun. Airnya pun tidak pernah kering karena berada di samping Kali Nangagete,” ujarnya.

Kris mengataka, petani di kecamatan lain saja harus menyiram tanaman hortikultura mereka menggunakan air yang dibeli dari mobil tanki atau air dari Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).

Menurutnya, petani di kecamatan lain rela mengeluarkan uang untuk membeli air agar tanamannya bisa subur, sementara di Desa Nebe airnya terbuang saja dan tidak dimanfaatkan.

“Sayang bila potensi yang ada tidak dimanfaatkan, sehingga saya pun memanfaatkannya, meskipun saya seorang sarjana pendidikan. Jadi petani hortikultura keuntungannya lumayan, dan bisa membiayai kebutuhan rumah tangga,” ucapnya.

Petani muda lainnya, Yance Maring, pun mengaku mengalami hal serupa saat dirinya mencoba mengajak anak-anak muda terjun menjadi petani hortikultura.

Yance mengaku dirinya telah mengembangkan sistem irigasi tetes yang menggunakan teknologi pertanian modern dan membuat petani tidak terlalu membutuhkan banyak tenaga.

“Meskipun petani tidak terlalu capai karena sudah menggunakan teknologi sistem irigasi tetes dan petani tidak perlu lagi menyiram secara manual, namun tetap saja kesulitan ajak anak muda bergabung,” ungkapnya.

Lihat juga...