Kasus Kebakaran Hutan Lindung di Sikka, Berkurang

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Kebakaran yang setiap tahun melanda kawasan hutan lindung Egon Ilimedo di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, sejak 2021 hampir tidak ada.

“Biasanya setiap tahun selalu terjadi kebakaran di kawasan hutan lindung Egon Ilimedo, terutama di Desa Egon, Kecamatan Waigete, namun tahun ini tidak terjadi,” kata Kepala Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPT KPH) Kabupaten Sikka, Benediktus Herry Siswadi, saat ditemui di Desa Watumilok, Kecamatan Kangae, Rabu (17/11/2021).

Menurut Herry, kebakaran mungkin tidak terjadi karena berkurangnya mobilitas masyarakat dari Kecamatan Mapitara menuju Waigete atau sebaliknya, dengan melewati jalan di dalam kawasan hutan.

Ia menyebutkan, pandemi Covid-19 membuat masyarakat Mapitara yang biasanya setiap hari selalu melewati jalan raya di dalam kawasan hutan lindung dengan membawa hasil komoditi perkebunan dan pertanian berkurang.

Kepala Unit Pelaksana Teknis Kesatuan Pengelolaan Hutan (UPT KPH) Kabupaten Sikka, NTT, Benediktus Herry Siswadi, saat ditemui di Desa Watumilok, Rabu (17/11/2021). -Foto: Ebed de Rosary

“Kebakaran hutan sering terjadi akibat ulah masyarakat yang melintasi jalan di dalam kawasan dan membuang puntung rokok. Api pun menyambar ilalang yang berada di pinggir jalan dan mengakibatkan kebakaran,” ujarnya.

Herry bersyukur, dengan tidak adanya kebakaran hutan sehingga membuat pihaknya tidak kesulitan melakukan pemadaman api.

Ia menambahkan, untuk memadamkan api pihaknya kesulitan karena hanya memiliki peralatan sederhana dan pemadaman dilakukan secara manual menggunakan tangan.

Dirinya mengharapkan ada bantuan mobil tanki air untuk UPT KPH Sikka, agar saat ada kebakaran bisa melakukan pendropingan air ke lokasi hutan yang bisa dijangkau kendaraan.

“Biasanya saat terjadi kebakaran hutan, kami kesulitan mencari air. Paling hanya meminta bantuan dari Polres Sikka dan BPBD Sikka yang memiiki mobil tanki air, agar bisa melakukan pemadaman api,” ujarnya.

Sementara itu Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, meminta agar para camat dan kepala desa memberikan penyadaran kepada warga agar jangan melakukan kegiatan pembakaran lahan.

Robi, sapaannya, menegaskan membakar lahan memang sudah dilakukan turun temurun, sehingga menjadi semacam budaya, padahal hal ini salah dan harus diperbaiki.

“Budaya bakar harus ditinggalkan, meskipun sudah dilakukan turun temurun dan dianggap benar. Jangan membakar lahan, sebab sangat berbahaya dan bisa menyebabkan kebakaran hutan,” pintanya.

Lihat juga...