Kata tak Berpucuk

CERPEN YONATHAN SITORUS

Jika Anda datang ke kelas kami, tentulah selain melihat peralatan mengajar, Anda juga akan melihat sebuah foto hitam-putih berbingkai di belakang kelas.

Foto seseorang dengan wajah pucat pasi dan tampak serius itu adalah sahabat kami. Kami terpaksa memasang fotonya itu karena mau bagaimana lagi, di satu sisi kelas kami hanya sedikit dan di sisi yang lain akhir-akhir ini keberadaannya sangat sulit untuk ditemukan.

Anggota kelas ini awalnya berjumlah empat belas orang, sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah angkatan ini yang kira-kira mendekati tiga ratus orang.

Jumlah yang sangat sedikit (atau bahkan bisa dibilang terlalu sedikit) ini menjadikan kami sangat akrab satu dengan yang lainnya. Kalau menurut saya pribadi, saya sudah menganggap mereka seperti saudara saya sendiri.

Tiada yang lebih spesial dari mereka bagi saya pribadi. Meskipun kata-kata tersebut benar adanya, namun bukan berarti mereka akan selalu ada di kelas ini.

Yang pertama kali pergi adalah seorang veteran sebagai sebutan bagi mereka yang tidak naik kelas. Saya sendiri tidak mengetahui secara detail mengapa ia gagal dan akhirnya terpaksa keluar dari sekolah ini.

Namun saya berharap, di mana pun ia berada, semoga kami bisa berkumpul kembali seperti sedia kala. Selain dirinya, kami semua berhasil naik kelas dan menikmati waktu perjumpaan kami lebih lama lagi.

Pada tahapan berikutnya, tiga dari teman kami pergi dari kelas ini. Yang satu, dengan kecerdasannya yang di atas rata-rata mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Kepergian sahabat saya yang satu ini tentunya sangat membanggakan sehingga yang mengiringi dalam perpisahan kami adalah senyuman. Yang lain lagi, pergi karena tidak mampu mengikuti pembelajaran sehingga terpaksa untuk tinggal kelas dan menjadi veteran.

Kepergian teman kami yang berikutnyalah yang menyebabkan kami harus memasang fotonya di kelas. Sejenak, kupandang fotonya sekilas, terbayang sebuah peristiwa ketika kami mengerjainya dengan dua buah gelas. Salah satu dari kami membual agar membuatnya tertarik.

“Sini, Cuk! Aku dengar, orang bisa melihat tuyul cuma pakai dua gelas!” ajak temanku dengan tampang seriusnya.

“Ah, masa sih! Aku tidak percaya sama sekali!” jawabnya.

“Sini makanya goblok! Aku kasih tahu caranya!” bentaknya.

Beruntungnya, temanku yang setengah penasaran itu, akhirnya menurut juga. Ia kemudan mengeluarkan dua gelas yang telah dipersiapkan sebelumnya dan menaruhnya di tembok dengan posisi horizontal.

Kemudian, temanku yang penasaran ini dimintanya untuk menutup mata sembari merapalkan kata-kata yang dikarang temanku yang dinyatakannya sebagai “mantra” dan memasukkan kedua sikunya ke dalam gelas-gelas tersebut.

Dengan bodohnya, ia menuruti semua ucapan temanku ini. Setelah semuanya selesai, ia kemudian membuka matanya. Kami semua yang menonton akhirnya tertawa melihatnya masuk perangkap.

“Gimana? Mana tuyulnya?” tanya salah satu temanku sambil tertawa terbahak-bahak.

Perlu sedikit waktu untuk membuatnya sadar jika ia telah ditipu. Ketika ia sadar bahwa ia telah terjebak, dengan hebohnya ia berteriak-teriak minta tolong untuk menahan kedua gelas tersebut karena kedua tangannya tidak dapat melakukan apa pun.

Kedua sikunya harus terus mendorong gelas-gelas tersebut ke tembok agar tidak jatuh. Akibat teriakannya, semakin banyak teman-teman dari kelas lain ikut menertawakannya yang tidak mampu melakukan apa pun selain menahan gelas-gelas tersebut agar tidak jatuh dan pecah.

Sambil tersenyum kecil, aku mengambil kursi guru dan mempersilakan tamu tersebut untuk duduk.

“Kelas ini jarang sekali memiliki formasi duduk yang rapi, kami terbiasa mengubahnya setiap hari, silakan,” ucapku pelan sambil memberikan kursi tersebut.

“Terima kasih,”  jawabnya singkat.

Kulihat matanya memandang foto hitam-putih tersebut. Dari raut wajahnya sangat tampak bahwa ia sedang merenung.

Yang aku tahu, terakhir kali aku bertemu langsung dengannya ketika ia tidak memiliki uang untuk membayar ojek yang disewanya.

Dalam perjalanan dari bandara Adisutjipto, ia kebingungan dan meminta bantuan melalui chat grup. Aku, yang kebetulan ngekos di dekat sekolah, menganjurkannya untuk mampir.

Ternyata, ia dan si tukang ojek sama sekali tidak berunding untuk tawar-menawar di awal perjalanan sehingga keduanya kebingungan saat saya tanya mengenai biayanya. Akhirnya saya mengeluarkan dua puluh ribu untuk si tukang ojek dan ia kemudian pergi.

Kemudian, aku persilakan temanku masuk dan aku perkenalkan ia dengan abangku, yang pada waktu itu sekamar denganku. Setelahnya, aku ajak ia makan di warung terdekat. Aku hadiahkan pula ia sebungkus rokok, hadiah dari seseorang yang tidak merokok.

Menjelang pergantian hari, barulah ia aku antar pulang. Entah kenapa, cuaca saat itu begitu dingin. Aku menggigil sepanjang jalan, ia yang menyadari hal itu menjadi kebingungan apakah akan melaju dengan kencang atau justru pelan-pelan.

Sesampainya di depan rumahnya, ia menyuruhku menunggu sebentar. Tidak aku sangka, ia ternyata membawakan jaket untuk aku pinjam agar aku tidak kedinginan di jalan. Jaket tersebut menjadi benda terakhir yang aku pinjam darinya.

Setelah itu, aku tidak lagi melihat dirinya. Ia bolos sekolah sehingga setiap anggota kelas mencari-cari keberadaannya. Ayahnya bahkan datang ke sekolah untuk menanyakan keberadaan anaknya tersebut.

Kami semua bingung. Kami tidak memiliki petunjuk harus mencarinya ke mana. Hingga di suatu malam, tepat setelah membeli paket data, kudapati sepucuk informasi jika ia telah ditemukan tak bernyawa.

Aku pun terdiam sejenak. Kemudian, aku bertanya dengan curiga, apakah berita ini cuma akal-akalan saja? Namun, tidak ada satu pun yang membalas. Hal tersebut membuatku semakin putus asa, namun juga semakin bertanya-tanya.

Sambil menunggu balasan, aku memanfaatkan waktu tersebut untuk memakai celana panjang serta jaket yang kupinjam darinya.

Seolah-olah seperti anak hilang, aku pergi ke burjo terdekat, yang biasa dipakai anak-anak sekolah untuk nongkrong, berharap ada seorang teman di sana yang bisa memberikan kejelasan.

Di warung tersebut, aku menemukan seseorang, yang entah seangkatan atau bukan, tetapi kami memiliki tujuan yang sama, yakni kejelasan.

Aku sangat beruntung sekali waktu itu, karena ia membawa motor dan mau memboncengi sampai ke lokasi kejadian. Mobil polisi terlihat memblokade jalan.

Lokasi tersebut telah disesaki oleh manusia-manusia yang penasaran, seperti gerombolan semut yang mengerubungi bibir botol kecap yang tidak tertutup.

Setelah beberapa saat berjejal-jejalan, akhirnya tampak sejumlah orang sedang mengangkut tandu yang berisikan tubuh seseorang yang tertutup ke dalam ambulans lalu beranjak pergi.

Setelah ambulans tersebut pergi, kerumunan perlahan-lahan menghilang. Di sebuah burjo di dekat lokasi kejadian, salah satu temanku sedang diwawancarai.

Dengan sebatang rokok di tangannya, kulihat ia tidak berusaha mengucapkan sepatah kata pun. Matanya yang sembab seolah memberitahu yang melihatnya jika dirinya pun sedang kebingungan.

Dari belakang, seseorang menepuk pundak dan menyapaku. Seorang teman kelas yang pernah mengerjainya dulu ternyata. Ia mempertemukanku dengan teman-teman kelasku yang lain.

Di perkumpulan itulah kami sepakat untuk berangkat ke RS Sardjito untuk menunggu perkembangan informasi selanjutnya.

Malam ini terasa begitu panjang, semuanya sunyi. Di perjalanan, tidak ada satu pun kata yang keluar. Kami semua masih mencoba mencerna peristiwa yang terlalu cepat berlalu ini.

Di sana, tampak kepala sekolah beserta beberapa guru yang telah sampai terlebih dahulu. Semua yang sedang berada di sana semakin memperjelas bahwa yang mati ini adalah teman kelasku.

Aku sangat tidak yakin sama sekali dengan kejadian ini, namun kami semua tidak dapat melihat jasadnya untuk memastikan langsung. Dari kabar yang beredar, ia mengakhiri hidupnya menggunakan pistol yang kemudian diketahui milik ayahnya.

Kami tidak menghabiskan banyak waktu di sana dengan kegundahan kami masing-masing, kami memutuskan untuk pulang. Entah kenapa, semua perasaan yang kupendam meledak ketika abangku menanyakan kepulanganku yang tidak biasa.

“Kenapa Lu?” tanyanya curiga.

“Temanku, yang pernah ke sini, mati,” jawabku perlahan sambil menitikkan air mata.

“Hah? Kenapa?”

“Dengan pistol di tangannya, kau pikir dengan cara apa dia mati, ha?” ungkapku setengah berteriak. Kuraih bantal untuk menutupi wajahku dan menangis tersedu-sedu kemudian.

Ia yang melihatku demikian pun menyadari jika aku membutuhkan waktu sendiri. Ia kemudian pamit untuk pergi bersama temannya dan meninggalkanku sendiri. Sisa malam itu berakhir dengan lolongan kesedihanku, seperti seekor anjing kehilangan tuannya.

Paginya, bersama-sama, kami pergi ke rumah duka. Kubawa jaket yang pernah dipinjamkannya padaku. Rumah duka itu tidak terlalu ramai.

Kami, sebagai teman sekelasnya, mendapatkan kesempatan yang cukup untuk mengenang kebersamaan kami. Begitu pula dengan diriku, kulihat dirinya di dalam peti, kaku dan pucat, masih tampak seberkas lubang kecil di kepalanya yang disumpal sedemikian rupa agar tertutup.

Sekali lagi, air mataku tidak dapat ditahan lagi. Maka menangislah kami semua, bertiga belas, layaknya anak kecil. Kami mengenang memori kebersamaan kami yang sangat berharga.

Aku ingat saat kami berjalan-jalan ke pantai. Ia begitu girangnya ketika sampai di sana. Ia merengek-rengek untuk berenang. Dan tentu saja, kami cegah ia karena hal tersebut sangat berbahaya di pantai itu. Aku ingat senyumannya yang mengekspresikan betapa bahagianya ia saat itu.

“Saya turut berduka,” demikian ujar teman-temanku.

“Yah, mau bagaimana lagi, sudah kejadian,  tidak ada yang dapat mengubah takdir,” balasku.

“Apa yang terjadi berikutnya?”

“Saya kembalikan jaket pemberiannya. Saya masukkan ke dalam peti, tepat di samping kaki kanannya.”

Aku tahu, masih banyak peristiwa setelahnya, seperti kehadiran wartawan dan kamera besarnya, lalu prosesi pemakamannya, dan lain sebagainya, yang menurutku tidak terlalu penting untuk diceritakan. Sebab yang terpenting dari segalanya hanyalah kehadirannya, bersama kami, di kelas ini.

Ah, dengan cepat kuhentikan lamunanku. Kembali aku tatap mata tamu yang duduk berhadapan denganku itu. Matanya berkaca-kaca dan dengan malu-malu meneteskan air mata. Ia pun menatapku dengan mata sembabnya itu.

“Mohon maaf, tapi kami tidak memiliki tisu di kelas ini.”

Tamu itu pun tersenyum kecil.

“Saya kira Anda sudah memperkirakan hal ini. Lagi pula bukan hanya saya yang memerlukannya, bukan begitu?” sindirnya.

“Anda tahu? Dari peristiwa itu, saya menyadari bahwa saya tidak pantas menyatakan jika saya adalah temannya, apalagi teman dekatnya. Saya adalah produk gagal yang tidak mampu menyelamatkan teman saya dari kematiannya. Saya sangat tidak layak untuk itu.”

Mendengar pernyataanku itu, ia tertegun. Ia menarik napasnya panjang dan dengan berat menghembuskannya, kemudian mendekatiku.

“Itu semua bukan salahmu. Aku melakukannya atas keinginanku sendiri. Kamu tidak perlu menyesali apa yang tidak kau perbuat,” ungkapnya sambil menepuk pundakku.

Ia kemudian berjalan menuju bingkai foto hitam-putih itu, meninggalkanku mematung memandangi kursi kosong yang ditinggalkannya. ***

Yogyakarta, 30 Oktober 2021

Yonathan Sitorus, lahir di Madiun, 9 Desember 1999. Mahasiswa semester sembilan Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...