Kemenkes : Imunisasi PCV Tanggulangi Kematian Balita Akibat Pneumonia

JAKARTA — Kementerian Kesehatan RI menjadikan imunisasi pneumococcal conjugate vaccine (PCV) sebagai salah satu strategi dalam menanggulangi laju kematian balita di Tanah Air akibat Pneumonia.

“Indonesia adalah satu dari sepuluh negara dengan jumlah kematian balita tertinggi pada tahun 2015 dan 14 persen kematian balita di Indonesia karena Pneumonia,” kata Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI Maxi Rein Rondunuwu dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IX yang diikuti dari YouTube DPR RI di Jakarta, Senin siang.

Berdasarkan laporan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), kata Maxi, Pneumonia yang dipicu virus Pneumokokus penyebab radang paru mengakibatkan dua hingga tiga balita meninggal setiap jam.

Berdasarkan hasil penelitian sejumlah pakar, imunisasi PCV dapat mengendalikan angka kasus kematian balita akibat Pneumonia selain air susu ibu (ASI), pemberian asupan gizi seimbang, sanitasi tidak sehat dan perilaku hidup bersih dan sehat.

Maxi mengatakan hasil riset kesehatan dasar (riskesdas) terdapat peningkatan prevalensi Pneumonia di Indonesia dari 1,6 persen pada 2013 menjadi 2 persen pada 2018.

Kemenkes juga menyelaraskan imunisasi Campak dan DPT dengan PCV sebab penanganan yang terlambat pada penyakit Campak dan DPT dapat berujung Pneumonia.

Maxi mengatakan Indonesia masuk dalam 77 persen negara di dunia yang sudah memulai pelaksanaan imunisasi PCV berdasarkan izin edar vaksin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI.

Imunisasi PCV di Indonesia menyasar bayi usia 2-3 bulan dan seluruh anak usia 12 bulan di Posyandu, Puskesmas, Puskesmas pembantu, rumah sakit pemerintah, rumah sakit swasta, klinik, praktik mandiri dokter, praktik mandiri bidan dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya yang memberikan layanan imunisasi, kata Maxi.

“Indonesia mengawali imunisasi PCV di Lombok Barat dan Lombok Timur pada 2017. Berlanjut pada 2018 di Bangka, Bangka Tengah, Kota Pangkal Pinang, Lombok, dan Kota Mataram. Pada 2019 di seluruh kabupaten/kota Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Bangka Belitung,” katanya.

Program tersebut juga diperluas menuju enam kabupaten/kota di Jawa Barat dan delapan kabupaten/kota di Jawa Timur pada 2021. “Rencana pada 2022 mencakup nasional untuk vaksinasi PCV,” katanya.

Maxi mengatakan cakupan imunisasi PCV di Indonesia masih relatif sedikit sebab baru dimulai 2017. Namun, jumlahnya menurun pada 2019 dan 2020 akibat pendemi COVID-19, karena kekosongan vaksin.

“Sekali pun baru dimulai, evaluasi imunisasi PCV di Lombok ada penurunan kasus Pneumonia,” katanya. [Ant]

Lihat juga...