Kesadaran Pentingnya Pendidikan di Dua Desa di Sikka Ini Sangat Rendah

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Hampir sebagian besar anak-anak usia sekolah di Kampung Wairbou, Desa Nebe dan Kampung Wailoke, Desa Wailamun, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, putus sekolah.

Di Kampung Wairbou yang dihuni 20 kepala keluarga saja, hanya satu anak saja yang melanjutkan kuliah di Pulau Jawa, sementara lainnya hanya tamat Sekolah Dasar atau Sekolah Manengah Pertama (SMP).

“Di Kampung Wailoke, pun sama, banyak yang hanya tamat SMP dan SMA saja,” sebut Yosefus Polikarpus, warga Kampung Wairbou, Desa Nebe, saat ditemui di desanya, Kamis (11/11/2021).

Warga Kampung Wairbou, Desa Nebe, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, NTT, Yosefus Polikarpus, saat ditemui di desanya, -Dok: CDN

Yosef, sapaannya, menyebutkan biasanya anak laki-laki akan pergi merantau ke Pulau  Kalimantan, Papua atau Sulawesi, sementara anak perempuan hanya tinggal di kampung, membantu orang tua bekerja di kebun,” ujarnya.

Dirinya menyebutkan, hampir sebagian besar warga Kampung Wairbou dan Wailoke pergi merantau ke Kalimantan hingga beberapa tahun baru kembali dan menetap di kampung.

“Rata-rata orang tua di dua kampung ini hanya bekerja sebagai petani dengan pendapatan pas-pasan, sehingga tidak bisa membiayai anak mereka kuliah. Apalagi, harus menanggung biaya hidup mereka, meskipun kuliah di Kota Maumere,” ujarnya.

Warga Kampung Wairbou lainnya, Albinus Lase, menyebutkan banyak orang tua di kampung yang masih berpikiran, untuk apa menyekolahkan anak hingga kuliah kalau setelah tamat tidak bekerja.

Binus menyebutkan, saat ini saja banyak sekali sarjana yang menganggur. Apalagi, anak perempuan lebih baik di rumah saja, karena nanti setelah menikah akan tinggal bersama suaminya.

“Sekarang ini sulit cari kerja, sehingga lebih baik anak-anak pergi merantau saja setelah tamat SMA. Bisa kumpulkan uang dan bila mereka mau melanjutkan kuliah, itu tergantung mereka,” ujarnya.

Binus menyebutkan, banyak orang tua tidak menyekolahkan anaknya hingga ke SMA, karena jarak dari kampung ke sekolah sekitar 15 kilometer dan harus menumpang angkutan pedesaan.

Ia mengatakan, SD dan SMP jaraknya tidak jauh dari kampung mereka, sehingga anak-anak hanya berjalan kaki untuk pergi dan pulang sekolah.

“Anak-anak juga kadang malas ke sekolah, karena teman-temannya pun banyak yang tidak sekolah. Paling banyak, hanya tamat SMP saja lalu bekerja di kebun membantu orang tua,” ucapnya.

Lihat juga...