Kualitas Interaksi Tingkatkan Kedekatan Orangtua dan Anak

JAKARTA — Psikolog klinis dewasa Muthmainah Mufidah dari Universitas Indonesia mengatakan bahwa hal yang terpenting untuk meningkatkan kedekatan antara orangtua dan anak adalah dengan memperhatikan kualitas dari interaksi bersama anak.

“Yang penting sebetulnya adalah kualitas dari interaksinya, bukan seberapa seringnya, atau pun sekadar hadir secara fisiknya. Jadi ketika bersama anak memang fokus mendengarkan dan berbagai cerita, misal bertukar cerita kegiatan ayah dan anak di hari itu,” ujar Mufidah saat dihubungi, Jumat (12/11/2021).

“Jika memang sibuk, sampaikan bahwa saat ini sedang sibuk bekerja dan ceritakan secara sederhana apa yang sedang dikerjakan, agar anak lebih tergambar. Bisa juga disiasati dengan ayah bekerja lalu anak belajar di sampingnya,” sambungnya.

Selain itu, psikolog dari Universitas Indonesia A. Kasandra Putranto juga mengatakan bahwa kiat untuk melakukan bonding dengan anak adalah dengan mengenali karakter anak.

“Kenali karakter anak dengan sering mengajaknya berdiskusi. Lakukan aktivitas atau hobi bersama-sama, misalnya olahraga, kuliner, dan lain-lain. Sesekali juga berikan hadiah atau kejutan untuk anak,” jelas Kasandra.

Hal yang sama pun disampaikan oleh psikolog anak, remaja dan keluarga Rosdiana Setyaningrum. Dia mengatakan bahwa pola komunikasi yang sesuai dengan karakter anak juga perlu dilakukan untuk membangun kedekatan.

“Kita sebagai orangtua harus memperhatikan anak kita karakternya seperti apa, diajak ngomong caranya bagaimana sih, kapan waktu yang tepat untuk ngomong. Terus pilihan kata-kata apa yang bisa digunakan untuk anak,” kata Rosdiana.

Lebih lanjut, Rosdiana juga mengingatkan agar orang tua dapat melakukan pola asuh yang sesuai dengan usia. Sehingga dengan demikian, anak pun akan merasa dihargai oleh orangtuanya.

“Mengasuh anak itu harus sesuai usia. Jadi misalnya kapan kita melatih kemandirian, kapan melatih untuk melakukan pilihan. Nah, gimana supaya anak itu dekat, ya sebetulnya kita memberikan kesempatan dia untuk melakukan tugas perkembangannya itu,” papar Rosdiana.

“Karena sebenarnya kalau misalnya kita ngajarin anak untuk mandiri pada saat memang dia waktunya belajar mandiri gitu, kita ngasih kesempatan. Itu tuh anak merasa bahwa dia itu dihargai. Makanya dia akan lebih dekat,” lanjutnya. (Ant)

Lihat juga...