Legislator Soroti Status Tanggap Darurat Bencana di Sikka

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Fraksi Gerindra DPRD Sikka, Nusa Tenggara Timur, menyoroti status tanggap darurat bencana yang dikeluarkan Pemerintah Kabupaten Sikka.

Dalam pandangan umum fraksinya yang diterima Cendana News, Rabu (24/11/2021), ditandatangani Ketua Fraksi Stefanus Say, menyebutkan kejadian bencana seharusnya sudah diantisipasi pemerintah.

“Ini kan peristiwsa tahunan yang mestinya sudah dapat diantisipasi, sehingga lebih tepatnya bukan situasi darurat,” sebut Stef.

Stef menyoroti surat pernyataan bencana nomor BPBD. I-360/320/XI/2021 yang ditandatangani oleh Bupati Sikka, atas kejadian banjir di beberapa Kelurahan dan kerusakan 4 (empat) rumah warga di Desa Masebewa.

Dalam pandangan fraksi yang dibacakan Merison Botu di gedung DPRD Sikka, Selasa (23/11/2021), pemerintah disarankan sebaiknya anggaran yang ada diserahkan kepada dinas terkait, agar dibuat perencanaan dan penanganan bencana secara permanen.

Terkait rumah warga yang mengalami kerusakan, sebut Merison, BPBD Sikka bertugas menanganinya dan sifatnya hanya darurat saja. Pemerintah, kata dia, harus berkaca kembali dari bencana sebelumnya yang hanya menghabiskan anggaran begitu besar.

Anggota Fraksi Partai Gerindra DPRD Sikka, Merison Botu, saat pemandangan umum fraksinya di gedung dewan di Jalan El Tari, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Selasa (23/11/2021). -Foto: Ebed de Rosary

“Kita hanya menghabiskan anggaran yang begitu besar, tapi tidak menyelesaikan masalah. Bahkan, terkesan hanya menghabiskan uang rakyat semata” tegas Merison.

Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, dalam surat pernyataan bencana yang dikeluarkan Sabtu (20/11/2021), menyebutkan telah terjadi hujan lebat diserta angin kencang dan gelombang pasang.

Kondisi ini kata Robi, sapaannya, mengakibatkan terjadinya banjir, tanah longsor dan abrasi pantai yang melanda wilayah Kabupaten Sikka.

Kejadian ini mengakibatkan rusaknya rumah penduduk, tanaman pertanian, peralatan nelayan, pohon tumbang, kerusakan jalan dan fasilitas umum lainnya.

“Sehubungan dengan kejadian tersebut,wilayah Kabupaten Sikka dinyatakan dalam status tanggap darurat bencana selama tiga puluh hari,” sebutnya.

Robi menambahkan, status tanggap darurat berlaku sejak 20 November 2021 hingga tanggal 19 Desember 2021.

Kepala Stasiun  Meteorologi, Frans Seda Maumere, Ota Welly Jenni Thalo, dalam imbauannya menjelaskan, berdasarkan monitoring BMKG terhadap kondisi ENSO menunjukkan fenomena global La Nina aktif diprakirakan akan berlangsung dengan intensitas lemah-moderat hingga Februari 2022.

Hal itu bersamaan dengan aktifnya Monsun Asia, Fenomena Madden-Julian Oscillation (MIO) dan ITCZ yang berkontribusi signifikan terhadap peningkatan labilitas atmosfer dan pertumbuhan awan-awan konvektif, yang menyebabkan hujan di wilayah Indonesia pada umumnya serta Kabupaten Sikka, Ende, dan Nagekeo pada khususnya.

“Kami mengimbau masyarakat di Kabupaten Sikka, Ende, dan Nagekeo khususnya pada jalan trans Flores di km 7 dan 8, Tanawawo, Paga, Talibura, Waiblama, Waidoko, Wuring dan daerah lain yang berpotensi terjadi bencana hidrometeorologi, agar selalu waspada terhadap dampak yang ditimbulkan,” pesannya.

Lihat juga...