Maestro Tari Ini tak Kenal Lelah Mengajar Menari

Setiap tahun dia mengajar selama enam bulan. Kegiatan ini kembali berlanjut pada tahun 2010 hingga 2013 bersama sejumlah maestro tari dari Bali diantaranya Prof Dr I Wayan Dibia. Dari 2007-2018, Arini pun rutin diminta terbang ke Negeri Sakura untuk mengajar di sejumlah sekolah tari milik salah seorang muridnya bernama Ami Hasegawa.

Pada 2004, Arini bersama salah seorang muridnya dari Amerika Serikat, Rucina Balinger mengangkat kembali sejumlah tari karya gurunya I Nyoman Kaler seperti tari Panji Semirang, Margapati, Wiranata, Demang Miring, Candrametu, Puspawarna, Bayan Nginte, Kupu-kupu Tarum, dan Legong Kebyar.

Untuk menikmati kembali karya-karya I Nyoman Kaler itu dilakukan simposium dan pementasan yang ditarikan oleh tiga generasi penari (lanjut usia, dewasa, dan remaja) bertempat di Taman Budaya Denpasar dan Institut Seni Indonesia Denpasar.

“Saya sangat berharap pemerintah daerah dapat terus membuka ruang bagi seniman untuk berkarya dan berkreativitas melalui berbagai kegiatan perlombaan ataupun pergelaran,” katanya.

Ia pun berharap para seniman tari saat ini untuk lebih meningkatkan kemampuan dalam seni tari agar benar-benar metaksu (berkarisma) dan indah bukan sekadar menari.

Menurutnya, banyak penari saat ini yang terkesan lebih mementangkan koreografi tari dan membawakan tari dengan sangat cepat, sehingga mengaburkan penguasaan dasar-dasar gerak tari Bali dan juga mimik penari.

Dalam pergelaran Pesta Kesenian Bali (PKB) yang merupakan ajang tahunan seni terbesar di Pulau Dewata, Arini dengan para siswa sanggarnya sudah dalam berbagai kesempatan turut tampil berpartisipasi.

Lihat juga...