Mahasiswa India Berjuang Lawan Diskriminasi Kasta

CHENNAI – Dirusak oleh staf akademik, dilarang memasuki laboratorium universitas dan bahkan ditolak menduduki kursi, Deepa P. Mohanan putus asa untuk dapat menyelesaikan PhD-nya sebagai wanita India kasta rendah. Tapi, kemudian dia memutuskan untuk melawan.

Mohanan yang meneliti pengobatan nano, menjadi gadis yang sosoknya terpampang di poster bagi puluhan ribu sesama mahasiswa Dalit, ketika dia melakukan mogok makan untuk memprotes diskriminasi dan berhasil memaksa otoritas universitas memberikan janji reformasi.

“Saya sangat ingin menyelesaikan PhD saya dan menyadari, bahwa itu tidak akan mungkin sampai saya secara terbuka menyerukan penghapusan diskriminasi kampus, yang saya hadapi selama bertahun-tahun,” kata Mohanan (36), dalam sebuah wawancara telepon dari rumahnya di Kottayam di India selatan.

Mohanan mengakhiri mogok makan 11 harinya awal bulan ini, setelah kepala Pusat Nanosains dan Nanoteknologi Universitas Internasional dan Antar Universitas Mahatma Gandhi diberhentikan, menyusul keluhannya.

Universitas itu juga telah membentuk sebuah komite di bawah wakil rektor untuk menyelidiki tuduhannya, yang menurut para aktivis hak asasi mencerminkan diskriminasi yang merajalela terhadap mahasiswa kasta rendah di kampus-kampus di seluruh negara berpenduduk 1,3 miliar orang itu.

200 juta orang dari kasta Dalit India, yang berada di anak tangga terbawah dari hierarki kasta kuno, masih berjuang untuk mengakses pendidikan dan pekerjaan enam dekade, setelah India melarang diskriminasi berbasis kasta dan memperkenalkan kuota minimum untuk meningkatkan perwakilan mereka.

“Diskriminasi kasta sangat lazim di kampus … ruang kelas telah menjadi ruang yang mengerikan,” kata Jenny Rowena, seorang profesor bahasa Inggris di Universitas Delhi.

Rowena, yang berkontribusi pada Saluran YouTube yang mendokumentasikan pengalaman Dalit dan komunitas terpinggirkan lainnya, mengatakan banyak siswa Dalit bolos kelas untuk menghindari dipermalukan atau putus sekolah sama sekali – memperburuk keterwakilan mereka.

Data pendidikan tinggi pemerintah menunjukkan pendaftaran siswa dari komunitas yang terpinggirkan atau kasta rendah pada 2019-20 adalah 14,7 persen dari semua siswa berusia 18-23, yang tak memenuhi kuota yang diamanatkan sebesar 15 persen di banyak bidang studi.

Perjuangan Sehari-hari

Mohanan, yang meneliti terbentuknya jaringan penyembuhan luka menggunakan nanopartikel, adalah satu-satunya siswa Dalit di angkatan 100, ketika ia bergabung dengan program pascasarjananya.

Seorang ibu tunggal, dia adalah orang pertama di keluarganya yang pergi ke universitas dan mengupayakan penelitian pascasarjana.

“Sungguh, saya tidak mengharapkan begitu banyak diskriminasi,” kata Mohanan, yang sebelum mogok makan telah membuat banyak keluhan ke universitas dan mengajukan keluhan hukum.

“Akhirnya dalam percakapan itu terungkap, bahwa jika seorang mahasiswa Dalit disukai, maka akan memengaruhi kedisiplinan institusi. Saya awalnya merasa kalah, tapi kemudian bertekad untuk melawan,” ujarnya.

Bagi banyak mahasiswa Dalit, kehidupan kampus adalah perjuangan sehari-hari, kata Anuraji PR, wakil presiden nasional badan mahasiswa Bhim Army, yang mendukung protes Mohanan.

Banyak yang gagal dalam penilaian internal dan pengawas sering menolak untuk menjadi pemandu mereka untuk studi pascadoktoral, atau mempertanyakan kemampuan mereka, kata seorang mahasiswa pascasarjana, yang meminta merahasiakan identitasnya karena dia akan mengikuti ujian.

Kuota penerimaan untuk siswa dari kelompok yang kurang terwakili, termasuk orang India kasta rendah, telah memicu diskriminasi, kata C. Lakshmanan, seorang profesor ilmu politik yang juga penyelenggara nasional Dalit Intellectual Collective.

“Siswa yang datang melalui reservasi dipandang tidak layak oleh rekan-rekan dan guru kelas atas perkotaan mereka, yang sebagian besar berasal dari ruang elite yang sama. Sangat disayangkan, bahwa mogok makan diperlukan untuk memenuhi tujuan akademis.”

Lihat juga...