Masa ‘Ngebabang’ Nelayan Teluk Lampung Perbaiki Alat Tangkap

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Masa ngebabang atau istirahat melaut bagi sebagian nelayan teluk Lampung diisi dengan berbagai aktivitas.

Nurmansah, salah satu nelayan asal Kelurahan Sukamaju, Teluk Betung Timur, Bandar Lampung menyebut memilih melalukan perbaikan alat tangkap. Memanfaatkan fasilitas area perbaikan perahu mesin atau docking milik Pelabuhan Perikanan Lempasing ia mengecek perahu.

Perbaikan perahu dilakukan saat masa negebabang bagi sebagian bidak atau anak buah kapal. Masa ngebabang sebutnya dimanfaatkan oleh para bidak untuk mengunjungi keluarga. Sebagian bidak berasal dari wilayah Kabupaten Pesawaran dan sebagian asal Lampung Selatan.

Bersama ahli las ia melakukan proses penyambungan dinding kapal tangkap. Gesekan dengan batu karang, dinding dermaga dan antar kapal nelayan kerap mengakibatkan kerusakan bagian kapal.

Sejumlah bagian kapal tangkap nelayan sebut Nurmansah butuh masa perbaikan selama dua pekan. Tingkat kerusakan bagian kapal sebutnya akan diperbaiki bertahap. Setelah bagian luar berupa lunas, dinding hingga baling baling perbaikan akan dilakukan pada bagian dalam.

Pengecatan menyeluruh akan dilakukan sebagai penguat dinding kapal tangkap sebelum digunakan kembali. Tahap berikutnya perbaikan jaring, pancing dilakukan sebelum melaut.

“Masih ada tiga bidak yang tinggal dekat pelabuhan perikanan sehingga bisa membantu perbaikan, saat ini air sedang pasang sehingga proses menaikkan perahu ke rel lebih mudah dibandingkan saat surut, perbaikan perahu atau kapal tangkap meningkatkan keamanan dan kenyamanan saat berlayar,” ulas Nurmansah saat ditemui Cendana News, Senin (1/11/2021).

Nurmansah bilang selama masa istirahat melaut ia menggunakan modal pinjaman. Modal pinjaman dipergunakan untuk membeli alat, membayar jasa tukang.

Pengembalian modal akan dilakukan saat mendapatkan hasil tangkapan melalui pembayaran bertahap. Pinjaman modal diakuinya kerap diperoleh dari bos ikan tempat ia menyetorkan hasil tangkapan.

Selain Nurmansah, sebagian sektor usaha berbasis laut ikut terpengaruh saat masa ngebabang. Lukiman, penyedia air bersih untuk perahu, kapal nelayan mengaku alami penurunan permintaan.

Lukiman, salah satu penyedia jasa air bersih membawa air dengan jeriken untuk pasokan sejumlah perahu nelayan di Lempasing, Teluk Betung Timur, Bandar Lampung, Senin (1/11/2021) – Foto: Henk Widi

Ia menyebut satu hari saat nelayan melaut mengirim sebanyak puluhan jeriken air. Jeriken air bersih berkapasitas puluhan liter dikirim ke perahu untuk persediaan saat melaut.

“Saat masa ngebabang hanya sedikit nelayan butuh air bersih, hanya untuk memasak saat sandar,” ulasnya.

Selain air bersih, Lukiman mengaku kebutuhan es balok sementara minim. Es balok sebutnya akan digunakan nelayan untuk mengawetkan ikan hasil tangkapan. Penggunaan es balok juga digunakan sebagai pengawet ikan untuk pedagang atau pelele.

Kondisi normal ia mengaku mendapat pesanan puluhan balok es untuk pengawetan ikan. Kini permintaan hanya mencapai belasan balok. Es sebagian digiling dan dibiarkan utuh.

Kondisi cuaca dan masa pakai perahu atau kapal nelayan kerap berimbas kerusakan. Imanuel, pemilik perahu bermesin dengan kapasitas 100 PK mengaku dinding perahu kayu alami kebocoran. Imbasnya perahu alami kebocoran saat sandar di tepi dermaga Lempasing.

Perahu karam dekat dermaga sebutnya terjadi saat malam sehingga mesin, alat tangkap tidak sempat diangkat.

“Perbaikan mesin diawali dengan mengeringkan air laut dan oli pada sela sela mesin sebelum disemprot memakai kompresor,” bebernya.

Imbas kebocoran ia mengaku kerugian bisa mencapai puluhan juta rupiah. Imanuel bilang normalnya saat ngebabang ia hanya memperbaiki jaring payang.

Sebagai nelayan jaring payang dengan mesin ia mengaku masih memiliki satu perahu cadangan. Proses perbaikan perahu diakuinya akan dilakukan secara bertahap memakai pelampung.

Lihat juga...