Minyak Kelapa Produksi KSP Kopdit Pintu Air Belum Banyak Diserap pasar

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Produk minyak kelapa yang diproduksi KSP Kopdit Pintu Air melalui perusahaannya yang bergerak di pembuatan minyak kelapa, rupanya belum banyak terserap di pasar lokal akibat rendahnya daya beli masyarakat.

Manager Operasional PT.PCP Rotat, berno Letepung saat ditemui di Kelurahan wailiti, Maumere, Kabupaten Sikka,NTT, Kamis (28/10/2021). Foto : Ebed de Rosary

“Masyarakat lebih memilih membeli minyak goreng dari kelapa sawit,” sebut Berno Letepung Manager Operasional PT.Pintar CCO Production (PCP) Rotat saat dihubungi, Selasa (2/11/2021).

Berno mengatakan, saat peluncuran Oktober 2020 jumlah produksi 18 ton dan saat ini produksinya sudah mencapi 25 ton.

Ia menyebutkan, menciptakan branding di level lokal sangat susah padahal di luar negeri produk yang dihasilkan dibeli berapapun banyaknya.

Dia menambahkan, pihaknya sudah mendapatkan pembeli dari luar negeri yang akan membeli bukan saja minyak saja tapi sabut dan tempurung yang dihasilkan.

“Kami telah ada di 5 kabupaten di Pulau Flores yakni Flores Timur, Sikka, Ende, Ngada dan Nagekeo. Kita terus melakukan promosi dan edukasi kepada masyarakat mengenai manfaat mengkonsumsi minyak kelapa,” ujarnya.

Berno mengaku harus melakukan edukasi terus menerus kepada para petani agar mau memproduksi minyak kelapa dan menjualnya kepada PCP Rotat milik KSP Kopdit Pintu Air.

Menurutnya, perlu merubah paradigma masyarakat mengenai warna minyak kelapa yang sejak dahulu selalu identik dengan warna cokelat tua.

“Dahulu minyak kelapa warnanya harus cokelat tua padahal itu tidak dibutuhkan karena asam lauratnya sudah tidak ada. Kami terus memberikan edukasi dan pemahaman mengenai proses pembuatan minyak kelapa yang benar,” ujarnya.

Ketua KSP Kopdit Pintu Air Yakobus Jano menyebutkan, pihaknya mencoba masuk ke pasar minyak kelapa dengan menggandeng para petani setelah melihat banyaknya kelapa bulat yang dibawa ke luar Flores.

Yakobus mengakui, dampak dari pembelian kelapa secara gelondongan dan dibawa ke Pulau Jawa dan diolah kembali, membuat para petani tidak mendapatkan keuntungan yang lebih besar.

“Petani menjual kelapa secara gelondongan per buahnya sementara di Jawa nantinya kelapa diambil minyaknya, air, sabut dan tempurung untuk diolah menjadi produk yang bernilai jual tinggi,” ucapnya.

Yakobus mengatakan, dengan menggandeng petani memproduksi minyak kelapa dan menjualnya kepada PCP Rotat akan membuat petani mendapatkan keuntungan yang lebih besar karena harga jualnya lebih tinggi.

Lihat juga...