Nelayan Bandar Lampung Pertahankan Penangkapan Ikan Ramah Lingkungan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Sukirman, nelayan tradisional di Kelurahan Kota Karang, Kecamatan Teluk Betung Barat, Bandar Lampung menyebutkan, ia memakai sumber energi ramah lingkungan untuk penerangan, yakni panel tenaga surya. Selain itu perahu tangkap nelayan jenis bagan congkel yang sebelumnya memakai bahan bakar solar, bensin kemudian diganti gas elpiji.

Sosialiasi terkait penggunaan bahan bakar ramah lingkungan sebut Sukirman dilakukan sejak lima tahun silam. Pemakaian juga dikolaborasikan dengan alat tangkap seperti bubu dan pancing rawe dasar.

Panel tenaga surya sebut Sukirman dimaksimalkan saat siang hari lalu disimpan pada baterai. Sejumlah perahu tangkap nelayan bisa memiliki dua hingga empat panel surya.

“Alat konverter khusus disiapkan untuk mengubah energi dan menyimpannya pada baterai sehingga bisa digunakan untuk menyalakan lampu, mengisi baterai telepon seluler bahkan memasak air panas. Listrik tenaga surya juga akan mengurangi pemakaian solar,” terang Sukirman saat ditemui Cendana News, Senin (8/11/2021).

Sukirman menyebut nelayan tidak mempergunakan alat tangkap perusak lingkungan dan telah ditinggalkan. Nelayan dengan bagan congkel  memakai jaring khusus untuk menangkap ikan pelagis atau permukaan dan ikan demersal atau ikan perairan dalam.

Suharso, salah satu nelayan di Lempasing, Teluk Betung Timur memakai pancing rawe dasar dan menghindari penggunaan racun dan bom ikan. Jenis pancing tersebut digunakan untuk memancing berbagai jenis ikan karang.

Bahan bakar gas elpiji sebutnya digunakan sebagai penggerak mesin perahu. Konverter yang berfungsi sebagai mesin untuk penggerak perahu menjadi cadangan saat bahan baku solar habis. Penggunaan bahan bakar ramah lingkungan sebutnya lebih efesien sebab disediakan pada sejumlah warung.

“Dibandingkan memakai solar,  bisa lebih hemat memakai gas elpiji,” tambahnya.

Nelayan menyiapkan perahu di Kota Karang, Teluk Betung Timur, Bandar Lampung, Senin (8/11/2021). Foto: Henk Widi

Imanuel, nelayan di Lempasing, Teluk Betung Timur menyebut memakai bubu tangkap ikan dan kepiting dengan menggunakan bambu dan digunakan pada area tangkap yang ditumbuhi mangrove.

Penangkapan ikan ramah lingkungan sebutnya tetap dipertahankan untuk menjaga keberlangsungan berbagai jenis ikan. Memakai alat tangkap ramah lingkungan dikombinasikan dengan jenis jaring untuk ikan besar.

“Jaring jenis pukat telah ditinggalkan karena bisa merusak terumbu karang, sebagian telah diganti dengan berbagai jenis alat tangkap ramah lingkungan,” bebernya.

Ikan, udang dan kepiting hasil tangkapan sebut Imanuel dijual ke pengepul di wilayah Bandar Lampung. Kesegaran berbagai jenis ikan laut merupakan hasil penangkapan dengan jaring rampus, jaring payang. Penggunaan berbagai jenis alat tangkap ramah lingkungan sebutnya menghasilkan ikan selar, ikan teri untuk bahan baku ikan kering, ikan asin.

Lihat juga...