Pandai Besi di Situbondo Masih Gunakan Alat Manual

Editor: Koko Triarko

SITUBONDO – Meski zaman sudah modern, perajin alat pertanian seperti arit dan pisau di Situbondo, Jawa Timur, masih bertahan. Profesi yang sering disebut pandai besi tersebut, bahkan masih dilakukan secara manaul, sehingga jumlah produksinya sangat terbatas.

Sahyoto, pandai besi di Desa Curah Cottok, Kecamatan Kapongan, Situbondo, mengatakan fasilitas peralatan pandai besi menggunakan alat yang masih serba manual. Sehingga, kemampuan memproduksi barang setiap hari hanya lima barang, yakni alat pemotong berupa pisau.

“Karena keterbatasan alat yang digunakan, produksi yang bisa dihasilkan kurang lebih hanya lima buah pisau,” ujar Sahyoto, Selasa (2/11/2021).

Sahyoto menunjukan hasil produksi pisaunya, Selasa (2/11/2021). –Foto: Iwan Feriyanto

Sahyoto mengaku, produksi alat pertanian maupun beberapa benda tajam lainnya yang dikelola secara pribadi memiliki ketentuan waktu yang berbeda dalam proses penyelesaian, hingga siap untuk bisa digunakan.

“Pembuatan arit dan pisau, lebih lama membuat pisau sebenarnya. Walaupun pisau tidak ada bentuk yang sama seperti arit, yakni melengkung, namun motif pembuatan pisau itulah yang membuat pisau lebih lama,” ungkapnya.

Menurutnya, waktu lama dalam pembuatan pisau disebabkan motif yang dihasilkan memunculkan variasi sebagai ciri khas.

Sahyoto mengaku sudah puluhan tahun menjadi padai besi. Sejak masih duduk di bangku sekolah, sudah memulai usaha pandai besi hingga saat sekarang.

“Kurang lebih dari 1965 saya memulai usaha ini. Namun, akhir-akhir ini konsumen sudah mulai berkurang. Produksi hanya bergantung pada pesanan yang datang,” jelasnya.

Sahyoto mengaku bisa memproduksi segala macam benda yang bahan utamanya dari besi. Seperti arit, cangkul, pedang, keris, pisau dan parang.

“Harga jual dari masing-masing barang beragam, yakni mulai harga Rp50.000 hingga Rp150.000, sesuai dengan permintaan pembeli,” katanya.

Lihat juga...