Pasar SMEP Tanjung Karang Pusat Kembali Dibuka, Pedagang: Masih Sepi

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sebagian pedagang di Pasar SMEP Tanjung Karang Pusat, Bandar Lampung, mulai membuka los atau kios, setelah hampir sepuluh tahun lamanya menunggu selesainya renovasi pasar tersebut. Namun demikian, kondisi pasar yang di sebagian titik masih ada kegiatan perbaikan itu masih sepi pembeli.

Herwianti, pedagang kelapa di pasar yang berada di Jalan Batu Sangkar, Kelapa Tiga itu, mengatakan sebagian pedagang telah menempati kios atau los yang disediakan oleh Dinas Perdagangan Kota Bandar Lampung tersebut.

Ia mengatakan, sejumlah fasilitas yang dibenahi berupa akses masuk dan sejumlah drainase serta akses jalan untuk naik ke lantai dua. Sejumlah kios dan los masih tutup, dan pedagang belum beroperasi.

Herwianti dan sejumlah pedagang lain yang telah mendapat jatah kios atau los untuk berjualan, mengaku masih sepi pembeli. Namun, ia merasa sedikit beruntung karena pemerintah kota setempat membebaskan biaya sewa dan los hingga Desember nanti.

“Pedagang mendapatkan keringanan tanpa uang sewa sementara waktu, namun untuk biaya harian salar untuk kebersihan tentu tetap, karena diperlukan untuk petugas kebersihan yang bekerja melakukan pengangkutan sampah,” terang Herwianti, saat ditemui Cendana News, Selasa (9/11/2021).

Salah satu pedagang pasar SMEP Jalan Batu Sangkar, Kelapa Tiga, Tanjung Karang, Bandar Lampung, Herwianti, menyediakan kelapa parut, Selasa (9/11/2021). –Foto: Henk Widi

Herwianti mengaku sempat berjualan di lokasi tempat penampungan sementara. Setelah sepuluh tahun menanti, ia kini bisa kembali berjualan di pasar SMEP. Pedagang yang menempati los atau kios di pasar SMEP dominan merupakan pemilik usaha yang berjualan di tempat itu puluhan tahun.

Senada, pedagang sayuran segar, Sumiayati, juga mengeluhkan masih sepinya pembeli. Menurutnya, pasar SMEP bisa kembali ramai jika pedagang ditertibkan. Sebelum pasar SMEP direnovasi, sejumlah pedagang sayuran memilih berjualan di pasar sementara.

Sejumlah pedagang, bahkan memilih berpindah ke lokasi lain. Ia mendapatkan los untuk berjualan, karena merupakan pedagang lama di lokasi tersebut.

“Kalau saat ini hampir sebulan berjualan di pasar SMEP, semoga ramai karena ada pembenahan lokasi berjualan,” terangnya.

Lokasi di basement, sebut Sumiayati masih dimanfaatkan sebagian pedagang. Pedagang berharap, jika uang sewa yang akan dibebankan kepada pedagang tidak terlalu mahal. Normalnya, sewa kios dan los di sejumlah pasar bisa mencapai Rp15.000.

Lusiani, pemilik usaha penjualan kopi bubuk, juga mengaku belum membayar sewa. Setelah bersabar selama hampir sepuluh tahun, ia mengaku kembali bisa berjualan di pasar SMEP.

Pemilik usaha penjualan kopi bubuk yang langsung menggiling kopi di pasar tersebut, pelanggan masih setia. Kopi cap jempol miliknya masih menjadi rujukan untuk sejumlah konsumen, karena aroma dan rasanya yang khas.

“Pelanggan tetap mulai datang, karena saya memasang pemberitahuan kios sudah kembali buka di pasar SMEP,” ulasnya.

Lusiani bilang, pasar SMEP yang baru telah tertata dengan baik. Sebab, lokasi penjualan barang kebutuhan pokok berupa sayuran, bumbu terpisah dengan lokasi untuk penjualan ikan, ayam.

Pemisahan los, kios akan memudahkan pedagang dan konsumen. Ia juga berharap, penertiban pedagang bisa dilakukan agar bisa berjualan di lokasi yang telah disediakan. Sebab jika pedagang tetap berjualan di sepanjang jalan, konsumen enggan masuk ke pasar SMEP.

Rita, salah satu pemilik usaha penjualan buah, menyebut tetap berjualan di tepi jalan. Pedagang buah segar itu beralasan, tidak mendapat jatah kios dan los di dalam pasar SMEP.

Alasan ke dua, lokasi berjualan di tepi jalan lebih strategis untuk menjangkau konsumen. Petugas Satpol PP diakui kerap menertibkan pedagang agar tidak menghalangi jalan. Jika sejumlah pedagang ditertibkan dan mendapat jatah kios, ia mengaku bisa berjualan di dalam pasar SMEP.

Lihat juga...