Pasar SMEP Tanjung Karang Pusat Masih Sepi Pembeli

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sebulan lebih pascarelokasi, sejumlah pedagang hasil pertanian di pasar SMEP Tanjung Karang Pusat, Bandar Lampung, mengaku masih sepi pembeli.

Matmunah, pedagang komoditas pertanian di pasar SMEP lantai dasar sisi Jalan Imam Bonjol, menyebut masih banyak pedagang enggan menempati lapak di blok yang disediakan. Sebelumnya, selama sembilan tahun ia berjualan di emperan toko Jalan Batu Sangkar.

Berjualan kembali di pasar SMEP, sebut Matmunah masih menyesuaikan. Kondisi pasar yang masih sepi terlihat dari lapak sayuran dan ikan yang masih sepi.

Ia mengatakan dibandingkan dengan saat berjualan di emperan toko, omzetnya kini menurun. Sejumlah pelanggan memilih berbelanja di pasar Pasir Gintung, tepat berada di depan pasar SMEP.

Relokasi dan penertiban sejumlah pedagang, menjadi salah satu penyebab berkurangnya pelanggan. Penertiban pedagang sayuran dan bumbu dilakukan oleh Pemerintah Kota Bandar Lampung. Penertiban tersebut menjadikan Jalan Batu Sangkar, Jalan Bukit Tinggi, Jalan Imam Bonjol lebih lebar dan luas. Sejumlah lokasi yang semula digunakan untuk menempatkan lapak telah bersih, karena sebagian pedagang menempati lapak baru. Pedagang yang mendapat jatah di pasar SMEP pada sejumlah lantai dan blok pasar tersebut mulai berjualan.

Matmunah (kanan) dan sejumlah pedagang di Pasar SMEP Tanjung Karang Pusat, Bandar Lampung lantai dasar tepat di sisi Jalan Imam Bonjol, mulai berjualan, meski sepi, Senin (22/11/2021). –Foto: Henk Widi

“Kami masih harus kembali menyesuaikan dan memperkenalkan pada pelanggan yang semula bisa bertransaksi di lapak lama, namun kini pindah ke lantai dasar hingga lantai satu untuk kebutuhan pokok, namun masih sepi, baik pedagang maupun pembeli karena ada yang memilih untuk berjualan di tempat lain,” ulas Matmunah, saat ditemui Cendana News, Senin (22/11/2021).

Matmunah bilang, telah melakukan pembandingan antara lokasi berjualan di tempat lama. Sehari, ia mengaku bisa mendapatkan omzet hingga lebih dari satu juta rupiah. Namun setelah pindah, ia mengaku mendapat hasil ratusan ribu rupiah saja per hari.

Ia mengaku masih tetap berjualan, karena memiliki pelanggan tetap dari sejumlah pedagang kuliner. Pelanggan mulai terbiasa membeli dengan langsung menuju ke lantai dasar pasar SMEP untuk penjualan sayuran, bumbu, daging hingga ikan air tawar dan ikan laut.

Pada lantai satu blok A yang digunakan untuk penjualan daging ayam, makanan dan makanan ringan juga terlihat sepi.

Uni Ulet, salah satu pedagang makanan ringan, menyebut telah pindah ke lokasi blok A lapak nomor 13 sejak dua pekan silam. Ia mengaku, sebelumnya berjualan dengan membuat kios sementara pada Jalan Batu Sangkar. Setelah digusur oleh Satpol PP dan mendapat jatah lapak, ia mulai berjualan di pasar SMEP.

“Masih menyesuaikan berjualan di lokasi lapak baru, sebagian pelanggan enggan naik ke lantai dua, bahkan memilih ke pasar Pasir Gintung,” ulasnya.

Uni Ulet menyebut, pasar SMEP akan ramai jika pedagang ditertibkan agar tidak berjualan selain di dalam pasar. Secara bertahap, sejumlah pedagang memilih masuk ke pasar SMEP. Sebagian memilih pindah ke tepi Jalan Kartini dan Jalan Raden Intan, memanfaatkan emper sejumlah toko. Sejumlah pedagang yang tetap berjualan di Jalan Bukit Tinggi memakai gerobak yang bisa dipindah.

Uni Ulet bilang, meski pedagang telah diberi los, lapak untuk berjualan, hanya sedikit yang berjualan. Faktor pembeli yang belum terbiasa berbelanja di pasar SMEP menjadikan pedagang masih menyesuaikan.

Uni Ulet bilang, pembelian sejumlah makanan ringan umumnya akan meningkat saat mendekati akhir tahun. Ia menyebut, bisa menjual beberapa kilogram makanan ringan untuk konsumen.

“Sejumlah pembeli langganan mulai mengetahui lokasi berjualan kami di pasar SMEP, namun tidak bisa dipungkiri sebagian beralih ke pasar Pasir Gintung,” ulasnya.

Rusmini, pedagang di pasar Pasir Gintung menyebut lokasi berjualan tepat berada di depan pasar SMEP. Ia menyebut, masih memiliki pelanggan tetap yang membeli hasil pertanian berupa kangkung, bayam, gambas, tomat hingga cabai.

Sebagai pasar yang menyediakan berbagai hasil pertanian, pasar Pasir Gintung dengan pintu masuk Jalan Imam Bonjol masih ramai. Ia menyebut, penertiban pedagang di sejumlah jalan justru menguntungkan.

Pedagang di pasar Pasir Gintung, sebut Rusmini justru mendapat tambahan pelanggan. Pasalnya, sejumlah pembeli enggan masuk ke pasar SMEP yang memiliki beberapa lantai. Sebagai pedagang grosiran melayani pemilik warung kecil, ia masih memiliki pelanggan tetap. Sepinya pasar SMEP justru berdampak positif, karena sebagian pembeli beralih ke pasar Pasir Gintung.

Penertiban pedagang di bahu Jalan Imam Bonjol sebut Rusmini ikut membantu pedagang di pasir Gintung. Penertiban lapak memungkinkan pembeli bisa masuk ke area pasar dengan kendaraan bermotor.

Pasir Gintung, sebutnya, masih menjadi favorit bagi pedagang karena menjadi tempat penjualan sistem grosir buah, sayuran dan sejumlah bumbu. Akses jalan yang ditertibkan membuat pembeli harus masuk ke area pasar tanpa membeli di tepi jalan.

Lihat juga...