Pelaku Usaha Kecil Terdampak Kenaikan Harga Minyak Goreng

Editor: Makmun Hidayat

LAMPUNG — Dampak kenaikan harga minyak goreng di pasar tradisional berpengaruh pada sektor usaha kecil di Bandar Lampung. Murdiah, salah satu pedagang di Pasar Kangkung, Teluk Betung Selatan menyebut harga minyak goreng kemasan fluktuatif.

Ia menyebut semula minyak goreng berbagai varian dijual mulai harga Rp15.000 hingga Rp16.000 per liter naik menjadi Rp17.000 hingga Rp19.000.

Kenaikan harga minyak goreng kemasan sebut Murdiah sudah berlangsung sejak dua pekan silam. Harga minyak goreng y kemasan yang naik sebutnya berasal dari sejumlah distributor. Sebagai pedagang pengecer ia menyebut menjual minyak goreng kemasan lebih dari lima merk. Harga pada tingkat pengecer sebutnya variatif dengan selisih Rp2.000 hingga Rp3.000. Kenaikan harga sebutnya bisa mencapai Rp3.000 hingga Rp5.000 per liter.

Murdiah bilang kenaikan harga berimbas pada volume pembelian dari konsumen. Pelanggan tetap sebutnya dominan pedagang gorengan, usaha kuliner. Keluhan dari konsumen sebutnya dengan adanya kenaikan harga. Imbasnya konsumen memilih mengurangi volume pembelian. Semula pelanggan kerap membeli hingga enam liter perhari kini hanya tiga liter. Harga minyak goreng sebutnya sudah naik dari distributor.

“Sebagai pengecer kami sudah mendapat harga dasar dari distributor sehingga kami melakukan penjualan dengan margin harga yang lebih tinggi, dampak penjualan lebih sedikit dibanding pekan sebelumnya karena konsumen menahan untuk membeli dalam jumlah banyak,” terang Murdiah saat ditemui Cendana News, Selasa (2/11/2021).

Murdiah bilang ia menyediakan stok minyak goreng kemasan dengan sistem kardus. Setiap pekan sebanyak sepuluh kardus dengan volume seratus liter disiapkannya. Permintaan dari sejumlah ibu rumah tangga dominan memilih jenis minyak goreng dari produsen tertentu. Dominan minyak goreng yang dijual berbahan kelapa sawit. Ia juga menyediakan minyak curah dari kelapa dengan kemasan plastik dengan harga lebih rendah.

Dampak harga yang semakin naik sebutnya sudah berasal dari distributor. Ia mengaku belum mengetahui penyebab utama kenaikan harga minyak goreng. Dugaan awal ia menyebut bahan baku kelapa sawit, lemak jadi alasan kenaikan harga sejak dari produsen. Ia menyebut permintaan dari pelaku usaha kuliner dan konsumen rumah tangga cukup meningkat.

“Banyak warga yang telah boleh melakukan hajatan pernikahan ikut berimbas permintaan meningkat dan harga naik,” ulasnya.

Herwianti, salah satu pemilik usaha warung makan di Teluk Betung, Bandar Lampung menggoreng ikan nila, Selasa (2/11/2021). -Foto Henk Widi

Herwianti, salah satu pemilik usaha warung makan menyebut kenaikan harga minyak goreng sangat terasa. Sebelumnya ia menyebut perliter minyak goreng kemasan dibeli seharga Rp15.500. Namun ia menyebut membeli minyak goreng dengan harga Rp19.500 per liter. Kenaikan harga minyak goreng sebutnya ikut berdampak bagi usaha yang ditekuninya. Ia menyebut belum menaikkan harga, namun ia memilih berhemat memakai minyak goreng.

Minyak goreng yang digunakan sebut Herwianti terpaksa dioplos dengan minyak kelapa. Campuran minyak kelapa dengan minyak sawit sebutnya menjadi cara untuk efesiensi pada usaha miliknya. Jenis kuliner yang harus digoreng sebutnya berupa ikan nila, gurame, ayam hingga udang. Berbagai jenis kuliner yang digoreng sebutnya ikut terdampak pada penggunaan minyak goreng.

“Saat ini banyak merk atau varian minyak goreng kemasan dengan harga berbeda sehingga harus pintar memilih agar biaya produksi bisa dihemat,” ulasnya.

Susanti, pedagang bakso Malang mengaku ia masih memakai minyak goreng kemasan. Kenaikan harga sebutnya disiasati dengan memperbanyak bakso yang direbus. Bahan yang digoreng sebutnya berupa kerupuk, bawang merah dan pangsit untuk pelengkap bakso malang. Ia mengaku kenaikan harga minyak goreng membuat ia harus melakukan efesiensi dengan memakai minyak goreng terbatas.

Tuminem, salah satu warga menyebut memanfaatkan minyak goreng dari kelapa. Memiliki kebun kelapa membuat ia bisa membuat minyak goreng untuk memasak. Selama harga minyak goreng kemasan naik ia memilih sementara tidak membeli di pasar. Kenaikan harga minyak goreng sebutnya ikut mengubah pola memasak dengan hanya merebus sayuran. Ia juga kembali kreatif dengan memanfaatkan kelapa menjadi minyak goreng untuk penghematan.

Lihat juga...