Pemuda di Kota Maumere Ini Sukses Bisnis Tanaman Hias

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Roy Marthen Pareira, seorang pemuda di Kota Maumere, kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, jauh sebelum Covid-19 melanda pada awal April 2020 silam menekuni usaha tanaman hias. Usahanya kini menuai sukses berkat ketekunannya.

Saat ditemui di Pasar Alok Maumere, Selasa (23/11/2021), Roy Marthen Pareira, berceritera banyak termasuk awal ketertarikannya terjun ke bisnis tanaman hias.

Dia melihat aktivitas seorang pebisnis tanaman hias di Kota Maumere yang juga seorang Aparatur Sipil Negara (ASN) menata taman

“Saya terinspirasi dari Om Yos Lamuri, seorang ASN di Maumere. Beliau yang mengajarkan saya dan membawa saya ke kebun bunganya, sehingga membuat saya tertarik,” ujar Roy, sapaannya.

Roy menyebutkan, dengan modal awal Rp5 juta pada awal April 2020, dirinya mulai mencoba terjun ke bisnis tanaman hias. Setelah hampir 2 tahun terjun ke bisnis ini, modalnya pun kini sudah mencapai ratusan juta rupiah.

Pemuda 33 tahun ini mengaku bukan saja belajar penjualan bungan, tapi belajar cara pembibitan bunga, mengatur media tanah serta cara pemeliharaannya.

Dia bukan saja  belajar teori dari youtube, tetapi langsung mempraktikkannya di lapangan hingga bisa sukses di bisnis penjualan tanaman hias, pupuk organik hingga pot bunga.

Roy Marthen Pareira, saat ditemui di Pasar Alok Maumere, Selasa (23/11/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Ia juga menawarkan pembuatan dekorasi taman, penyewaan tanaman hias, menata kembali taman seperti di kantor, tempat usaha dan rumah pribadi.

“Beberapa kafe, kantor dan rumah pribadi di Kota Maumere memakai jasa saya dalam melakukan penataan taman,” terangnya.

Ayah 4 anak ini menerangkan, beberapa kantor di Kota Mumere sering minta dilakukan penataan taman, menata bunga dan mengganti medianya.

Ia mengatakan, pencinta tanaman hias banyak yang tidak begitu mengetahui jika media tanam harus diganti setiap 9 bulan, sehingga ia pun menawarkan jasa.

Dirinya menyediakan media tanah organik bagus dan menggantinya, sementara pembeli hanya membeli media tanam saja, sedangkan ongkos pekerjaan digratiskan.

“Saya belajar membuat pupuk organik dari media sosial dan belajar dari seorang di Waioti. Saya membuat pupuk organik dari fermentasi kotoran ternak, seperti kotoran ayam dan produknya laris manis di pasaran,” ucapnya.

Roy menambahkan, selain menjual aneka tanaman hias, dirinya juga menjual tanaman buah-buahan, seperti mangga okulasi berbagai jenis, rambutan, durian, klengkeng, anggur, jambu dan lainnya.

Dia memaparkan, pupuk organik dan media arang sekam dijual Rp75 ribu per karung ukuran 50 kilogram, dan bila membeli dalam jumlah banyak harganya bisa turun hingga Rp50 ribu per karungnya.

Sementara bunga dijual dari harga Rp10 ribu hingga Rp1 juta per pohon untuk jenis palem dan agronema. Ia mengaku banyak yang membeli, meskipun harganya mahal.

Ia juga menjual pot bunga sebanyak 40 jenis dengan harga per lusin Rp30 ribu sampai Rp400 ribu, dan bisa dibeli satuan.

“Semua tanaman hias saya datangkan dari Pulau Jawa dan Sumatra, termasuk juga tanaman buah-buahan. Selain order dari luar, saya mulai belajar membuat pembibitan sendiri dengan memesan bibit dari luar daerah,” ujarnya.

Roy mengaku, setelah terjun di bisnis tanaman merasa nyaman dan menikmatinya. Dia pun bisa kredit  sepeda motor baru dan menyekolahkan anaknya dari hasil usahanya.

Sebelumnya, ia berjudi online dan suka hiburan malam. Namun, setelah terjun ke bisnis ini dirianya meninggalkan semua itu dan lebih fokus menabung untuk masa depan.

Dia berpesan kepada anak-anak muda di Kabupaten Sikka maupun NTT, agar tidak usah kecewa dengan situasi saat ini saat pandemi Covid-19 merebak, tapi mulailah tekun bekerja memanfaatkan apa yang ada di sekitar kita.

Ia mencontohkan, seperti bercocok tanam dan lainnya dan semuanya memang melalui proses panjang, agar bisa memetik hasilnya dan dirasakan manfaatnya.

“Terpenting kita bisa menggaji diri kita sendiri, masa pendatang dari luar daerah saja bisa sukses, sementara kita warga lokal tidak bisa mencontohi mereka? Saya masih kekurangan lahan dan sedang berusaha untuk menyewanya,” ungkapnya.

Seorang pebisnis tanaman hias lainnya di Kota Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Ansis Uba Ama, mengaku salut dengan semangat anak-anak muda seperti Roy yang terjun ke bisnis tanaman hias.

Ansis senang dengan semangat anak-anak muda seperti Roy yang terjun menjadi pebisnis tanaman hias, dan bisa menginspirasi anak-anak muda lainnya di NTT.

Ia mengaku salut dengan Roy yang giat dan tekun dalam berusaha, dan sebagai sesama pebisnis tanaman hias ia sering memberikan dukungan.

“Kalau ada teman-teman di Maumere atau wilayah lainnya di NTT, stok tanaman hiasnya habis saya terkadang kirim atau sebaliknya meminta mereka kirim ke saya. Kami saling support antarsesama pebisnis tanaman hias,” pungkasnya.

Lihat juga...