Penangkapan Ikan Invasif di Sungai Bedog, Jaga Kelestarian Ikan Endemik

Editor: Makmun Hidayat

YOGYAKARTA — Sebagai upaya menjaga ekosistem serta kelestarian habitat sungai, sejumlah pihak bersama elemen masyarakat menggelar kegiatan bersih sungai sekaligus penyebaran benih ikan lokal endemik di kawasan Sungai Bedog, Kaliabu, Banyuraden, Gamping, Sleman, Rabu (10/11/2021). 

Selain membersihkan kawasan sungai dari sampah rumah tangga dan ranting-ranting pohon, mereka juga melakukan kegiatan penangkapan ikan invasif, yang selama ini banyak terdapat di Sungai Bedog. Yang dikhawatirkan dapat mengancam kelestarian ikan-ikan endemik/ikan lokal yang terdapat di sungai tersebut.

Direktur Polairut Polda DIY, Kombes Pol Nurodin SIK MH, Rabu (10/11/2021). -Foto Jatmika H. Kusmargana

Direktur Polairut Polda DIY, Kombes Pol Nurodin, SIK, MH, menegaskan pihaknya bersama jajaran terkait seperti Dinas Perikanan dan Kelautan, Balai Karantina Ikan, hingga relawan maupun komunitas pelestari lingkungan, berkomitmen untuk senantiasa menjaga kondisi lingkungan sungai. Baik itu dari sampah rumah tangga, maupun ikan invasif yang kerap dilepaskan masyarakat.

“Kegiatan ini merupakan upaya untuk mengkampanyekan pada masyarakat, agar kita bisa bersama-sama menjaga lingkungan sungai, sehingga habitat dan ekosistemnya bisa selalu terjaga,” katanya.

Kabid Kelautan Pesisir dan Pengawasan, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) DIY, Juwarti, ST, MSi, mengakui menurunnya jumlah populasi serta keanegaraman hayati kawasan perairan umum daratan. Baik itu sungai embung maupun waduk.

Hal tersebut disebabkan oleh banyak faktor, mulai dari pencemaran sungai akibat limbah rumah tangga dan industri. Hingga peredaran ikan invasif yang kerap dilepasliarkan masyarakat sehingga mengganggu habitat ikan lokal.

Kabid Kelautan Pesisir dan Pengawasan, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) DIY Juwarti ST MSi, Rabu (10/11/2021). -Foto Jatmika H. Kusmargana

“Karena itu upaya-upaya konservasi harus terus dilakukan. Untuk melestarikan sumber daya ikan kita. Salah satunya dengan melakukan restoking lewat penyebaran benih ikan endemik seperti nilem, wader bang, sepat dan uceng ini,” katanya.

Sementara itu, larangan untuk memelihara, membudidayakan atau mengedarkan serta melepasliarkan ikan invasif sendiri sebenarnya telah diatur pemerintah melalui Permen KP no 19 tahun 2020. Seperti misalnya ikan aligator, arapaima, red devil, dan lain-lain. Sayangnya hingga saat ini, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui hal tersebut.

“Dari pemetaan ikan invasif yang kita lakukan, kita masih menemukan adanya ikan seperti red devil, sapu-sapu, hingga peacock bass. Ini artinya masih banyak masyarakat yang melepasliarkan ikan ini ke sungai,”  ungkap Pelaksana Koordinator Pengawasan Pengendalian Data dan Informasi, Balai Karantina Ikan DIY, Haryanto.

Oleh sebab itu, lanjutnya, pihaknya selalu melakukan edukasi ke masyarakat, khususnya yang memelihara ikan-ikan predator semacam ini untuk tidak melepasliarkannya ke sungai. Karena akan dapat mengancam kelestarian ikan lokal/endemik.

Lihat juga...