Pengolahan Pakan dan Pergantian Air Tingkatkan Mutu Daging Ikan Nila

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

JAKARTA — Sekjen Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia, Dr. Ir. Azam B. Zaidy, MS, mengatakan, produksi ikan nila secara nasional saat ini mencapai 400 ribu ton per tahun dengan produktivitas 20-30 kilogram per meter kubik.

Sekjen Asosiasi Pengusaha Catfish Indonesia, Dr. Ir. Azam B. Zaidy, MS, pada acara online tentang peternakan, yang diikuti Cendana News, Rabu (14/7/2021). foto: Sri Sugiarti

“Hasil produksi ikan patin ini, terbagi menjadi 80 persen untuk konsumsi segar, dan 20 persen untuk bahan baku industri pengolahan,” ujar Azam, kepada Cendana News saat dihubungi, Senin (1/11/2021).

Dijelaskan dia, untuk konsumsi segar, yakni biasanya untuk rumah tangga atau rumah makan, berat ikan berkisar antara setengah hingga dua kilogram

Sementara untuk industri, berat ikan nila minimal adalah 800 gram. Kondisi semua ikan tersebut berbau lumpur dan warna daging ikan merah muda atau pink untuk kepentingan fillet.

“Warna daging merah muda, yang dipersyaratkan oleh industri ini hanya dapat dicapai dengan metode pemberian pakan secara tepat,” urainya.

Untuk mendapatkan hasil panen maksimal, tentu menurutnya, yang harus menjadi perhatian adalah pergantian air dan kandungan protein pada pakan akan mempengaruhi mutu daging. Semakin tepat kandungan protein pakan, maka konsentrasi carcass juga akan semakin tinggi dan warna daging pun akan sesuai dengan permintaan industri.

“Ini telah dibuktikan dengan percobaan perlakuan pergantian air dan kandungan protein pakan yang dipublikasi pada tahun 2021,” ungkap Azam.

Lebih lanjut dijelaskan, dengan kondisi tanpa pergantian air dan kandungan protein pakan 16 persen, didapatkan daging dengan kandungan protein adalah 67,12 persen dan rasio carcass adalah 37,87 persen.

Jika kandungan protein pakan dinaikkan menjadi 32 persen, maka didapatkan daging dengan kandungan protein adalah 72 persen dan rasio Carcass adalah 44,59 persen.

Berbeda jika diberikan perlakuan pergantian air 100 persen dengan kandungan protein pakan 16 persen, yang didapatkan adalah daging dengan kandungan protein adalah 65,13 persen dan rasio Carcass adalah 38,88 persen.

Tapi jika diberikan perlakuan pergantian air 100 persen dengan kandungan protein pakan 32 persen, maka didapatkan adalah daging ikan dengan kandungan protein adalah 72,8 persen dan rasio Carcass adalah 47,87 persen

“Warna daging pun pada ikan yang menerima perlakuan pergantian air 100 persen, lebih alami dengan yang tidak mengalami pergantian air,” ujarnya.

Sedangkan pada yang tidak mengalami pergantian air, warna daging akan kuning. “Kondisi ikan nila seperti ini tidak bisa diterima oleh industri,” tukasnya.

Disebutkan juga, warna daging ikan nila yang kuning masih dapat disalurkan ke sektor konsumsi segar. Dalam hal ini penjualan langsung di pasar tradisional.

“Tapi tentunya, jika kita bisa memperbesar persentase penyaluran ke industri. Maka, kita akan bisa meningkatkan permintaan pasar. Tak hanya untuk industri pengolahan dalam negeri tapi juga untuk kepentingan ekspor,” pungkas Azam.

Lihat juga...