Penjualan Kain Tenun di Sikka Masih Sepi

Editor: Koko Triarko

Tadeus menerangkan, sepinya order kain tenun di Kabupaten Sikka terjadi karena tidak ada pesta dan kunjungan wisatawan dari luar daerah ke Kabupaten Sikka.

Biasanya, kata dia, saat musim pesta sejak bulan Juli hingga November, setiap tahunnya penjualan kain tenun untuk Kabupaten Sikka saja bisa meningkat hingga 50 persen.

“Biasanya saat pesta dan kematian, ada saja warga yang membeli kain tenun untuk diberikan kepada keluarga yang merayakan pesta. Juga diberikan kepada keluarga yang sedang berduka karena ada kematian dalam keluarga,” ungkapnya.

Sementara itu Fransiskus Nong, penjual kain tenun bekas, mengaku biasanya mengirim kain tenun bekas ke Kota Kupang untuk dijual kembali atau dijadikan pakaian.

Frans, sapaannya mengatakan dalam sebulan dirinya bisa mengantongi uang belasan juta rupiah, namun sejak pandemi Covid-19 usahanya mandek sehingga dirinya beralih menjual hortikultura.

“Saya sekarang pun masih belum ada pesanan kain tenun, sehingga memilih menjual hortikultura di pasar-pasar tradisional, dengan membelinya dari petani. Meskipun keuntungannya tidak seberapa, namun lumayan untuk membiayai kebutuhan keluarga,” ucapnya.

Lihat juga...