Petani di Sikka Mulai Bersiap Tanam Padi Ladang dan Jagung

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Musim hujan yang mulai tiba sejak akhir Oktober 2021, membuat para petani di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur mulai bersiap menanam padi ladang dan jagung.

Saat ditemui di Kampung Wailoke, Desa Wailamun, Minggu (7/11/2021), Donatus Ebang mengatakan banyak petani yang mulai mempersiapkan benih padi ladang dan jagung untuk segera ditanam.

“Intensitas hujan yang tinggi dan hampir sering setiap harinya, membuat para petani mulai bersiap menanam dan biasanya dilakukan secara berkelompok,” tuturnya.

Donatus mengatakan, para petani di kampungnya selain mengandalkan hasil perkebunan seperti mete, kelapa dan kakao, juga menanam padi dan jagung di ladang atau kebun mereka.

Ia menerangkan, padi dan jagung ditanam setahun sekali saat musim hujan dan hasil panennya untuk dikonsumsi sendiri bersama keluarga, dan hanya sedikit saja yang dijual.

“Biasanya hasil panen padi dan jagung hanya untuk konsumsi sendiri saja. Ada juga yang menjualnya di pasar tradisional, bila ada kelebihan hasil panen atau membutuhkan uang,” ujarnya.

Sementara itu Yosefus Polikarpus, petani di Kampung Wairbou, Desa Nebe, menjelaskan biasanya lahan kebun berada di perbukitan, namun ada juga warga yang di pinggir Kali Nangagete.

Warga Kampung Wailoke, Desa Wailamun, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, NTT, Donatus Ebang, saat ditemui di Kali Nangagete, Minggu (7/11/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Yosef, sapaannya, mengakui di Desa Nebe ada juga petani yang memiliki sawah dan menanam padi, jagung atau kacang hijau, namun banyak yang mengandalkan hasil perkebunan seperti kelapa, mete dan kakao.

“Rata-rata petani memiliki kebun mete yang berproduksi setahun sekali. Kebun kakao pun hasilnya tidak maksimal karena terserang penyakit busuk buah, yang mengakibatkan produksi menurun drastis,” ucapnya.

Yosef mengatakan, menurunnya hasil panen mete dan kakao membuat banyak petani di Kampung Wairbou juga bekerja sambilan menjadi tukang bangunan atau memanjat dan mengupas kelapa.

Dirinya mengatakan, bagi warga etnis Tana Ai, biasanya saat membuka kebun baru harus ada ritual adat terlebih dahulu dengan menyembelih babi, guna memberi makan arwah para lelulur dan penjaga kampung (Guna Dewa).

“Ada juga membuka kebun sebagai penghormatan kepada anggota keluarga yang telah meninggal, sehingga harus dibuatkan ritual adat di kebun tersebut. Semua anggota keluarga dan suku diundang saat dilakukan penanaman padi dan jagung,” ucapnya.

Lihat juga...