Petani di Sleman Pilih Budi Daya Sawi karena Masa Panen Singkat

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Sejumlah petani di kabupaten Sleman, memilih budi daya komoditas sawi hijau karena sejumlah keunggulannya. Selain mudah dalam perawatan, masa panennya juga sangat singkat, hanya sekitar 20 hari. 

Salah seorang petani sawi hijau di dusun Surokerten, Selomartani, Kalasan, Sleman, Wahono, mengaku membudidayakan sawi hijau di lahan seluas 1000 meter persegi miliknya. Lahan itu ia bagi dalam dua petak agar tanaman bisa dipanen setiap 20 hari sekali.

“Saya pilih komoditas sawi Pertiwi, karena masa panennya yang sangat singkat. Hanya 20 hari. Selain itu jenis ini juga lebih panjang dibanding sawi jenis lain. Bisa mencapai 40 cm. Beda dengan jenis sawi mangkok pakcoy, dan sebagainya,” ungkapnya, Senin (8/11/2021).

Wahono, petani sawi hijau di dusun Surokerten, Selomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta, Wahono, Senin (8/11/2021). –Foto: Jatmika H Kusmargana

Dari satu petak lahan miliknya, Wahono mengaku bisa memanen 30-35 kilogram sawi hijau. Untuk saat ini, sawi tersebut bisa dijual dengan harga Rp2.000 per kilogram. Dalam satu siklus sendiri, ia mengaku bisa memanen sebanyak 4 kali.

“Harga jualnya saat ini Rp2.000 per kilogram. Cukup rendah, karena biasanya bisa mencapai Rp3.000-4.000. Meskipun sudah naik dari sebelumnya yang hanya laku Rp1.000 per kilogram,” ungkapnya.

Untuk perawatan, memelihara sawi hijau sangatlah mudah. Wahono mengaku biasa membeli benih sawi dalam bentuk biji untuk kemudian ia semai dan bibitkan sendiri. Cara itu menurutnya lebih murah jika dibandingkan membeli benih secara langsung.

“Perawatannya juga mudah sekali. Cukup diberi pupuk sekali. Saya biasa memakai pupuk NPK dengan sistem kocor. Dalam satu siklus, biasanya saya hanya berikan pupuk sekali. Setelah 20 hari sudah bisa panen,” ungkapnya.

Lihat juga...