Petani Kopi dan Kelapa di Sulteng Didorong Jaga Kualitas Ekspor

KOTA PALU — Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPD HIPMI) Sulawesi Tengah, mendorong para petani lokal untuk mempertahankan dan menjaga kualitas komoditas kopi dan kelapa yang menjadi perhatian pasar ekspor saat ini di sejumlah negara timur tengah.

Ketua HIPMI Sulteng Nadier Badjamal mengatakan dorongan itu untuk menyambut investor-investor yang sejauh ini, telah melakukan komunikasi intens untuk mengimpor komoditas kopi dan kelapa dari Sulawesi Tengah. Salah satunya yang memiliki minat besar pada komoditas unggulan Sulteng itu adalah negara Mesir.

“Kita akan memiliki permintaan besar dari Mesir khusus untuk kopi jenisnya itu Kopi robusta dan untuk komoditas kelapa ini sesuai arahan dari Menteri Investasi Bahlil Lahadali dan BPP HIPMI Mardani H Maming, kita upayakan fokus masuk pasar di kawasan-kawasan Eropa,” kata Nadier, Rabu (10/11/2021).

Ia menjelaskan nantinya jika ekspor itu sudah dilakukan maka yang harus diperhatikan secara serius adalah kualitas komoditasnya, selain dari jumlah ketersediaan yang juga harus dijaga keseimbangannya. Sebab itu akan menjadi nilai penting untuk diperoleh para petani.

Berdasarkan dari dua nilai itu, nantinya dapat dimungkinkan dengan peningkatan harga yang akan diperoleh para petani komoditas kelapa dan kopi. Sebaliknya, jika itu tak bisa dipastikan secara serius maka akan berdampak pada hal-hal lainnya, seperti penurunan harga.

Selain komoditas kopi dan kelapa, Nadier turut mendorong para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) segera melakukan ekspor dengan memanfaatkan berbagai program yang dihadirkan pemerintah dari berbagai leding sektor, maupun program yang saat ini tengah dijalankan oleh HIPMI.

Ia menilai para pelaku usaha bisa memanfaatkan keberadaan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri, para atase perdagangan dan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC).

Sedangkan UMKM yang saat ini terkendala dengan pemodalan, dapat melakukan kerjasama dengan HIPMI yang terbuka bagi siapa saja secara individu maupun kelompok dalam pengadaan barang dan jasa.

“Akses alternatif ini dapat membantu teman-teman UMKM mencapai Rp4 miliar maksimalnya dengan sistem syariah sehingga tidak memiliki ikatan bunga selain dari bagi hasil,” katanya.

Keunggulan dengan menggunakan konsep itu, adalah dapat melakukan negosiasi saat membagi hasil terkait dengan kerja sama pemasaran UMKM.

“Bahkan kontrak kerjanya sangat jelas jadi memang kita bisa negosiasi disana, dan untuk ini kita sudah meneken kerjasama dengan platform Ethis Fintech Indonesia, jadi ini adalah solusi yang kita hadirkan untuk membantu pertumbuhan ekonomi di Sulteng, secara luasnya kita ingin UMKM lokal menembus pasar-pasar ekspor,” katanya. (Ant)

Lihat juga...