Petani Sayuran Waspadai Faktor Penyebab Resiko Gagal Panen di Musim Penghujan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA — Memasuki musim penghujan, sejumlah petani sayur di Yogyakarta mewaspadai sejumlah faktor yang dapat mempengaruhi resiko gagal panen.

Salah seorang petani sayuran, asal dusun Surokerten Selomartani Kalasan Sleman, Wahono, Senin (15/11/2021). Foto: Jatmika H Kusmargana

Selain munculnya banyak penyakit dan hama, kondisi tanah yang tergenang saat musim penghujan juga dapat menjadi penentu resiko gagal panen.

Salah seorang petani sayuran, asal dusun Surokerten Selomartani Kalasan Sleman, Wahono, mengaku menanam sawi hijau di lahan seluas 1.000 meter miliknya.

Untuk mengantisipasi tanaman sawi hijau miliknya tergenang air, setiap awal musim penghujan seperti saat ini ia biasa meninggikan bedengan menjadi lebih tinggi.

“Tanaman sayuran seperti sawi sangat rawan busuk dan mati jika terendam air. Apalagi saat musim penghujan seperti sekarang ini. Sehingga bedengan harus dibuat lebih tinggi. Minimal 20-30 cm,” katanya Senin (15/11/2021).

Sementara itu, menurut Wahono, di musim penghujan seperti sekarang ini, sejumlah penyakit juga kerap menyerang tanaman sayur seperti sawi hijau. Mulai dari ulat atau kutu kebul yang menyerang daun, hingga jamur atau virus yang menyerang akar.

“Untuk mengantisipasi penyakit dan hama seperti ini petani harus rutin menyemprot pestisida baik itu pestisida kimia ataupun pestisida hayati. Minimal setiap dua minggu sekali,” katanya.

Wahono sendiri mengaku memilih membudidayakan komoditas sawi hijau karena sejumlah keunggulannya. Selain mudah dalam hal perawatan, komoditas sawi hijau juga dipilih karena masa panennya yang sangat singkat. Yakni hanya sekitar 20 hari.

Dari satu petak lahan miliknya Wahono mengaku bisa memanen sebanyak 30-35 kilo sawi hijau. Untuk saat ini sawi tersebut bisa ia jual dengan harga Rp2.000 per kilo. Dalam satu siklus sendiri, ia mengaku bisa memanen sebanyak 4 kali.

Lihat juga...