Produksi Kopra Petani di Sikka Terkendala Hujan

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Hujan yang mulai mengguyur di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur,  membuat usaha pengolahan kelapa menjadi kopra mengalami kendala, karena petani tidak bisa menjemur kelapa.

Don Lewar, salah seorang petani di Desa Nebe, Kecamatan Talibura, menyebutkan, petani juga kesulitan dalam memproduksi kopra karena terkendala jumlah kelapa tua yang tersedia.

“Pohon kelapa tidak bisa dipanjat karena hujan membuat pohon menjadi licin. Petani hanya mengharapkan kelapa tua yang jatuh ke tanah, baru dikumpulkan hingga banyak terlebih dahulu,” sebutnya saat dihubungi, Selasa (16/11/2021).

Don menjelaskan, selain kesulitan memanjat kelapa, proses penjemuran kelapa menjadi kopra yang selama ini mengandalkan sinar matahari juga tidak bisa dilakukan.

Karena itu, petani harus membuat tempat pengeringan untuk meletakkan kelapa di atasnya, lalu melakukan pengasapan dengan cara membuat api atau asap di bagian bawahnya.

Warga Desa Nebe, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, NTT, Don Lewar, saat ditemui di rumahnya, Minggu (14/11/2021). -Foto: Ebed de Rosary

“Pengasapan kopra memang membutuhkan waktu yang lebih lama dan harus sering dikontrol, agar jangan sampai kelapanya menjadi gosong atau nyala apinya membesar,” ucapnya.

Don menambahkan, kondisi ini membuat banyak petani yang memilih menjual kelapa secara gelondongan, per butir Rp2.000 atau 40 buah seharga Rp80.000, dengan ukuran kelapa bervariasi.

Banyak petani juga terpaksa menjual kelapa dengan harga Rp1.000 per buah, karena pedagang pengumpul kesulitan membawa mobil masuk keluar kampung untuk membeli kelapa akibat akses jalan yang sulit dilewati saat hujan.

“Saat musim hujan, jalanan di desa-desa banyak yang sulit dilewati karena masih berupa jalan tanah,” sebutnya.

Kondisi ini, jelas Don membuat petani sering menukar kelapa dengan barang kebutuhan sehari-hari di kios-kios yang ada di desa, dengan harga jual kelapa per butir Rp.1000.

Sementara itu, Rikardus Umbu, pemilik usaha pengolahan kopra putih menyarankan agar petani mulai beralih ke kopra putih, sebab proses pengeringannya tidak menggunakan pengasapan, tetapi memakai belerang.

Icad, sapaannya, menjelaskan kelapa setelah dibelah diletakkan di dalam rumah pengolahan yang ditutupi plastik khusus, dan di bagian bawah rak-rak kayu tempat kelapa diletakkan dibakar belerang saat malam hari.

“Belerang juga disiram di lantai rumah pengolahan yang hanya ditimbun dengan kerikil, agar membantu terciptanya panas yang membantu proses pengeringan. Juga mengandalkan sinar matahari yang masuk ke tempat penjemuran saat cuaca panas,” ucapnya.

Lihat juga...