Sejumlah Petani Kelapa di NTT Terjerat Ijon

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Sistem ijon yang diterapkan oleh para tengkulak, membuat sejumlah petani kelapa di kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, hanya sekadar memiliki pohon kelapa. Sementara, harga jual ditentukan oleh para tengkulak yang telah memberikan pinjaman uang atau barang kebutuhan pokok.

“Biasanya para petani kelapa diberi pinjaman uang atau barang kebutuhan pokok terlebih dahulu. Ini yang membuat harga kelapa dibeli dengan harga murah oleh para tengkulak,” sebut Berno Letepung, Manajer Operasional PT. Pintar CCO Production (PCP) Rotat, saat dihubungi, Selasa (2/11/2021).

Berno mengatakan, pihaknya kesulitan membeli kelapa dengan harga yang jauh lebih tinggi untuk memproduksi minyak kelapa, bahkan mengajak petani kerja sama memproduksinya.

Ia menyebutkan, para petani beralasan sudah terikat kontrak dengan pembeli, meskipun harga jual yang ditawarkan untuk kelapa gelondongan satu buahnya seharga Rp1.000 hingga Rp1.500.

Manajer Operasional PT. PCP Rotat, Berno Letepung, saat ditemui di Kelurahan Wailiti, Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Kamis (28/10/2021). -Foto: Ebed de Rosary

“Kami bisa membeli dengan harga Rp2 ribu per buah, tetapi petani tidak bisa menjual kelapanya di tempat usaha kami, karena sudah mengambil uang panjar atau barang kebutuhan dari tengkulak,” ujarnya.

Berno menyebutkan, perusahaan pengolahan minyak kelapa yang dikelolanya membeli kelapa dari 5 kabupaten di Pulau Flores mulai dari Flores Timur, Sikka, Ende, Ngada dan Nagekeo.

Meski begitu, pihaknya hanya mengambil dari beberapa petani kelapa di beberapa kecamatan saja, karena banyak petani yang sudah terikat oleh tengkulak yang menjadi kaki tangan pemodal besar.

“Petani kelapa tetap miskin, karena harga jual kelapa ditekan oleh tengkulak. Padahal, satu buah kelapa di Surabaya bisa dijual minimal Rp5 ribu per buahnya,” terangnya.

Berno menuturkan, pengusaha untung karena membeli kelapa gelondongan, sehingga dari buah, air, sabut dan tempurungnya bisa dijual dengan harga lumayan besar.

Lanjutnya, untuk kepentingan tersebut pengusaha atau pemodal besar pun mampu mempekerjakan para tengkulak atau penampung kelapa hingga ke desa-desa.

“Harus ada kebijakan dari pemerintah, agar pengusaha tidak membeli kelapa secara gelondongan. Kelapa harus diolah menjadi bahan setengah jadi atau bahan jadi terlebih dahulu, baru dikirim ke luar daerah,” pintanya.

Hal senada disampaikan Rikardus Umbu, pengusaha lokal kopra putih yang mengaku miris melihat nasib petani kelapa yang jauh dari kata sejahtera, sehingga ia langsung turun membeli ke tangan petani.

Icad, sapaannya, mengaku membeli kelapa gelondongan seharga Rp2.400 per buahnya.

Dia menyebutkan, mengolah kelapa menjadi kopra putih sementara tempurung kelapa diolah menjadi arang dan sabutnya diolah baru diekspor.

“Bila kelapa diolah menjadi bahan setengah jadi dan langsung diekspor, kita bisa membeli kelapa dari petani dengan harga yang jauh lebih mahal. Ini akan membuat petani bisa mendapatkan keuntungan lebih banyak,” ungkapnya.

Lihat juga...