Sektor Usaha Kuliner Serap Komoditas Pertanian di Bandar Lampung

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Beroperasinya usaha kuliner tanpa pembatasan operasional, berdampak positif bagi pedagang komoditas pertanian di Bandar Lampung.

Buka sejak subub hari, Rusmini, pedagang sayuran dan bumbu di Pasar Pasir Gintung, Kecamatan Tanjung Karang Pusat, Bandar Lampung, menjual tomat rampai, terong bulat, selada, sawi dan sejumlah sayuran, yang menjadi langganan dari sejumlah usaha kuliner.

Pelanggan dominan pemilik usaha warung makan, pecel lele dan pemilik usaha catering. Dibandingkan tahun sebelumnya, penjualan bahan bumbu mengalami peningkatan.

Dampak usaha kuliner yang kembali beroperasi, ia bisa menyediakan sayuran, bumbu dalam jumlah banyak. Pasokan berasal dari wilayah Gisting, Tanggamus dan Liwa, Lampung Barat. Sayuran segar dijual dengan sistem grosiran bagi sejumlah pemilik usaha kuliner.

Hartono, pedagang nanas di Pasar Pasir Gintung, Tanjung Karang Pusat, Bandar Lampung, Sabtu (27/11/2021). –Foto: Henk Widi

Rusmini bilang, sejumlah pedagang telah memiliki pelanggan tetap. Ia mengaku, komoditas pertanian juga dibeli oleh ibu rumah tangga yang memilih sayuran segar. Konsumen rumah tangga kerap berbelanja kala subuh hingga pagi. Hasilnya, sejumlah pedagang sudah bisa kembali ke rumah menjelang siang. Sebagian barang yang belum laku terjual, bisa dijual kembali di rumah.

“Sebagian pedagang sayuran juga memiliki kios di rumah, sehingga barang yang belum laku terjual di pasar masih bisa dijual kembali di warung yang ada di dalam rumah untuk memenuhi konsumen rumah tangga,” terang Rusmini, saat ditemui Cendana News, Sabtu (27/11/2021).

Menurut Rusmini, harga sejumlah komoditas pertanian jenis sayuran mengalami kenaikan sekitar Rp500 hingga Rp1.000. Musim penghujan dan jelang pergantian tahun, menjadi salah satu faktor kenaikan harga.

Ia mengatakan, tomat rampai semula dijual Rp25.000 per kilogram, naik menjadi Rp27.000. Komoditas terung, mentimun, sawi dan selada juga mengalami kenaikan. Faktor distribusi imbas banjir dan gagal panen juga menjadi penyebab kenaikan harga.

Rusmini mengatakan, pelanggan tetap menjadi kunci perputaran uang tetap lancar. Sejumlah pemilik usaha kuliner di Taman Gajah, Lungsir dan wilayah Kemiling, menjadikan komoditas pertanian, terserap. Selama usaha kuliner beroperasi, penjualan komoditas tetap lancar dengan omzet stabil setiap hari.

“Pemilik usaha warung kaki lima dengan tenda juga menjadi penyerap paling pokok dari komoditas yang saya miliki,” terangnya.

Nurhasanah, pedagang cabai rawit, caplak, dan cabai merah besar, mengaku stok disediakan rata rata satu kuintal. Pelanggan tetap dari juru masak di sejumlah restoran, warung makan hingga pedagang kaki lima. Penjualan sistem grosir bagi sejumlah pedagang kuliner, menjadi penyerap komoditas pertanian terbesar.

“Memiliki pelanggan yang menyerap komoditas dagangan, kerap menerapkan sistem bayar bertahap,” katanya.

Pelanggan Nurhasanah didominasi pemilik usaha restoran dan warung makan. Sistem pembayaran bertahap dilakukan untuk memutar modal. Sejumlah pemilik usaha restoran yang menjadi pelanggan tetap akan memilih cabai dan beragam bumbu berkualitas.

Memakai pembelian sistem bertahap, a akan memudahkan pelaku usaha kuliner. Ia masih tetap mendapat pembayaran sebagian.

“Pembayaran dilakukan bertahap bagi pelanggan, karena kami juga membantu pemilik usaha kuliner tetap beroperasi,” ulasnya.

Sementara itu Hartono, pedagang nanas madu di Pasar Pasir Gintung, mengaku keberadaannya mendukung usaha asinan dan rujak. Sebagian konsumen merupakan pembuat kue, jus buah yang memanfaatkan bahan baku nanas.

Beroperasinya sejumlah usaha kuliner dan munculnya kreasi kuliner, membuat buah nanas banyak diminati. Mendekati akhir tahun, permintaan nanas untuk isian kue membuat stok ditambah olehnya.

“Pasokan nanas berasal dari Lampung Tengah dan Lampung Timur, rata-rata dua kuintal per hari,” terangnya.

Permintaan akan daging ayam yang stabil juga diakui oleh Wandiah. Pedagang daging ayam tersebut mengaku pelanggan merupakan pemilik warung makan. Munculnya usaha ayam goreng dengan konsep kaki lima, menjadikan penyerapan daging ikan stabil. Selain melayani pelanggan usaha warung makan, konsumen rumah tangga juga menjadikan penyerapan daging ayam tetap lancar, setiap hari rata-rata 100 ekor.

Lihat juga...