Siswa SDN Sukun Rela Seberangi Laut Demi Simulasi ANBK

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Sebanyak 27 murid SDN Sukun, Pulau Sukun, Desa Semparong, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, rela menempuh perjalanan menggunakan kapal nelayan selama lima jam, agar bisa ikut simulasi ANBK di Kota Maumere.

Guru SDN Sukun, Jumaldin, menyebutkan para guru dan 27 siswa harus berlayar menggunakan kapal nelayan dan tiba di Kota Maumere pada Selasa (2/11/2021).

“Dari 30 murid, hanya 27 orang saja yang bisa mengikuti simulasi Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK), karena 3 murid lainnya sedang sakit,” ujarnya saat ditemui di SMKN1 Maumere, Wairklau, Kota Maumere, Kamis (4/11/2021).

Jumaldin mengaku kasihan melihat kondisi para murid yang selama pelayaran dan ada gelombang, banyak murid yang mabuk laut dan muntah.

Ia mengatakan, sebagai guru pihaknya merasa kuatir dan tidak tenang melihat kondisi murid, namun mau bagaimana lagi karena sebagai guru ini merupakan tanggungjawab mereka.

Guru SDN Sukun, Pulau Sukun, Desa Semparong, Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, NTT, Jumaldin, saat ditemui di SMKN1 Maumere, Kamis (4/11/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Dirinya menambahkan, sebagai guru mau tidak mau pihaknya harus mengikuti aturan pemerintah mengenai sekolah wajib mengikuti ANBK.

“Kami tiba Selasa (2/11) dan istirahat sehari, baru Rabu (3/11) dan Kamis (4/11) hari ini mengikuti simulasi ANBK di SMKN 1 Maumere. Desa kami berada di pulau terluar dan tidak memiliki jaringan listrik dan internet,” sebutnya.

Jumaldin mengharapkan, pemerintah memperhatikan pembangunan fasilitas litsrik dan internet yang sangat dibutuhkan sekolah, apalagi kegiatan pembelajaran dan administrasi sekolah juga sudah dilaksanakan secara online.

Lanjutnya, sekolahnya hanya memiliki 9 buah laptop, namun tidak bisa digunakan karena tidak ada jaringan internet.

Dia menjelaskan, untuk sampai ke Kota Maumere pihaknya menyewa perahu nelayan dengan biaya Rp2 juta pulang pergi menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

“Kalau dihitung dananya minus, namun dengan dana yang minim tetap kami upayakan agar anak didik kami bisa mengikuti kegiatan ANBK, ” ungkapnya.

Jumaldin menyebutkan, hampir semua warga di Pulau Sukun menggunakan energi listrik tenaga surya untuk penerangan sehari-hari. Hanya beberapa warga yang mampu saja yang menggunakan generator, sehingga bisa mengoperasikan televisi dan lemari pendingin.

Sementara itu, Al Hariri, siswa kelas V SDN Sukun mengaku bisa mengoperasikan komputer dan menjawab soal-soal yang ditanyakan, karena sebelumnya telah belajar terlebih dahulu.

Al Hariri mengharapkan agar sekolahnya memiliki fasilitas listrik dan jaringan internet, sehingga anak-anak sekolah tidak harus berlayar ke Kota Maumere untuk mengikuti ujian ANBK.

“Saya bisa mengoperasikan komputer dan teman-teman lainnya juga bisa. Kami telah belajar terlebih dahulu, namun memang sedikit mengalami kesulitan awalnya,” tuturnya.

Lihat juga...