Tak Ada Jembatan, Warga Dua Desa di Sikka Tiap Hari Harus Seberangi Sungai

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Masyarakat di Kampung Wairbou, Desa Nebe dan Dusun Wailoke, Desa Wailamun, di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, setiap hari harus melintasi Kali (sungai) Nangagete sepanjang 50 meter.

Warga Kampung Wairbou,Yosefus Polikarpus, saat ditemui di samping Kali Nangagete menyebutkan, setiap hari warga dari dua kampung yang terdiri atas 60 Kepala Keluarga (KK) harus menyeberangi kali ke Dusun Belawuk, pusat Desa Nebe.

“Sejak dahulu warga sudah meminta dibangun jembatan gantung agar orang sakit dan melahirkan bisa lebih mudah dibawa ke Dusun Belawuk, agar bisa naik kendaraan,” ungkap Yosef, sapaannya.

Yosef menyebutkan, warga harus menyeberangi kali ke Dusun Belawuk di sebelah selatan Kali Nangagete, sebab fasilitas Poliklinik Desa (Polindes) berada di dusun tersebut.

Warga Kampung Wairbou, Desa Nebe,Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, NTT, Yosefus Polikarpus, saat ditemui di Kali Nangagete, Senin (1/11/2021). -Foto: Ebed de Rosary

Selain itu bila harus naik kendaraan ke Puskesmas Watubaing di Desa Talibura, semuanya harus dari jalan negara Trans Flores Larantuka-Maumere yang berada di dusun ini.

“Bila ada urusan di kantor Desa Nebe dan Pos Polisi, kita harus menyeberangi kali.Setiap hari kita harus menyeberangi kali, termasuk untuk membeli berbagai perlengkapan rumah tangga dan menjual komoditi pertanian,” ujarnya.

Yosef mengatakan, saat ketinggian air kali meningkat di musim hujan atau terjadi banjir di Kali Nangagete, warga kesulitan mengevakuasi orang sakit dan ibu hamil yang hendak melahirkan.

Dia menyebutkan,warga harus menelepon mobil ambulans atau membawa pasien menggunakan mobil pick up melewati jalan semen dan jalan tanah sejauh 3 kilometer ke jalan raya.

Dirinya menjelaskan, bagi warga yang bisa berenang, maka saat ketinggian air kali meningkat, mereka akan berenang agar bisa melintasi kali daripada harus berjalan kaki sejauh 3 kilometer lebih.

“Memang ada jalan semen, namun masih sekitar 300 meter lebih belum disemen dan saat hujan sulit dilewati. Kalau ada jembatan gantung, kita lebih cepat membawa pasien ke rumah sakit atau Puskesmas Watubaing,” ucapnya.

Sementara itu Donatus Ebang, warga Dusun Wailoke, menyebutkan warga setiap hari Minggu kalau mau ke gereja pasti berjalan kaki dari dusunnya menuju Kampung Wairbou, baru menyeberangi kali menuju Dusun Belawuk.

Donatus mengatakan, meskipun harus berjalan sejauh sekitar satu kilometer pulang pergi, namun hal ini harus dilakukan.

Dia beralasan, jarak tempuh menuju Dusun Belwauk lebih dekat daripada harus berjalan ke arah barat menuju jalan provinsi sejauh 3 kilometer lebih di dekat Jembatan Iyan Loeng.

“Kalau sudah musim hujan dan Kali Nangagete banjir, maka warga terpaksa jalan kaki menuju jalan raya provinsi di Jembatan Iyan Loeng sejauh 3 kilometer, baru membayar ojek bila harus ke gereja di Dusun Belawuk,” terangnya.

Donatus menambahkan, kalau ada warga yang memiliki sepeda motor, tentu bisa lebih mudah menuju jalan provinsi, meskipun harus ke arah barat baru kembali ke timur lagi, namun kondisi jalannya pun licin dan rusak saat hujan.

Lihat juga...