Usulan SU 1 Maret Sebagai Hari Besar Nasional Jadi Momentum Memaknai Kata Berdaulat

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

YOGYAKARTA — Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Laksmi Pratiwi, S.S.‚ MA, menyebut usulan peristiwa Serangan Umum 1 Maret Sebagai Hari Besar Nasional sejak 2018 lalu, hingga saat ini masih terus diproses di tingkat pusat.

Ia sendiri berharap, penetapan peristiwa Serangan Umum 1 Maret Sebagai Hari Besar Nasional, nantinya akan dapat menjadi momentum masyarakat di tanah air untuk lebih memaknai kata ‘Berdaulat’ dalam arti sesungguhnya.

“Ya berdaulat sebagai sebuah negara. Baik itu berdaulat secara kebudayaan hingga ekonomi. Karena bagaimanapun kedaulatan itu menunjukkan identitas dan jati diri sebuah bangsa,” ujarnya dalam seminar daring Pengusulan Serangan Umum 1 Maret Sebagai Hari Besar Nasional, di Kampung Mataraman, Bantul, Selasa (30/11/2021).

Dalam kesempatan itu, Dian menjelaskan usulan penetapan SU 1 Maret sebagai hari besar nasional dibuat karena peristiwa tersebut mengandung nilai-nilai kebudayaan yang luar biasa. Mulai dari nilai-nilai kebangsaan, gotong royong perjuangan, keindonesiaan persatuan.

“Peristiwa SU 1 Maret ini kita usulkan sebagai hari besar nasional karena tidak ingin menonjolkan peran sentral seorang. Namun lebih pada kolaborasi semua unsur, baik pemerintah, TNI maupun rakyat,” katanya.

Selain bertujuan untuk mengingat jasa para pahlawan, DIY dikatakan mengusulkan peristiwa SU 1 Maret sebagai hari besar nasional karena DIY ingin berkontribusi menyumbangkan semangat nasionalisme dan kebangsaan secara nasional.

“Selain itu juga untuk mengingat, merefleksi, dan meneguhkan kembali rasa persatuan, maupun cita-cita awal pendirian bangsa dan negara. Yakni kesepakatan nasional. Baik itu, ideologi Pancasila, NKRI, Bhineka Tunggal Ika, UUD 45, Merah Putih,” ungkapnya.

Sementara itu Sejarawan UGM, Dr. Sri Margana, M. Hum, M.Phil mengatakan, peristiwa SU 1 Maret penting untuk ditetapkan sebagai hari besar nasional, sebagai momen penting untuk mengingat rasa kesetiakawanan. Maupun kerjasama antara pemimpin dan rakyat untuk berjuang bersama mencapai 1 tujuan yakni kehidupan yang lebih baik.

“Ya meskipun harus diakui peristiwa SU 1 Maret merupakan wujud konsistensi sikap nasionalis dan patriotuk Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Mulai dari menawarkan Yogyakarta sebagai ibu kota. Menginisiasi Serangan Umum 1 Maret. Memberikan bantuan berupa uang pada Republik Indonesia. Hingga menerima serah terima kedaulatan pasca KMB dengan belanda,” katanya.

“Serangan Umum 1 Maret ini sangat penting karena mampu membantah gema atau propaganda Belanda yang menyatakan bahwa Indonesia sudah habis. Serangan Umum 1 Maret ini merupakan inisiatif Sultan yang diterima Jendral Soedirman. Dari situlah, Jendral Soedirman lalu mengutus Lektol Soeharto untuk menemui Sultan. Dari pertemuan Sultan dengan Letkol Soeharto itulah akhirnya disepakati serangan dilakukan pada pagi hari tanggal 1 Maret 1094 dengan melibatkan 10 ribu pasukan untuk menyerang dan menduduki pusat kota Yogyakarta,” pungkasnya.

Lihat juga...