Beragam Alat Tangkap Ikan Ramah Lingkungan Nelayan Bandar Lampung

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sejumlah nelayan tradisional di Bandar Lampung, menerapkan pola tangkap ramah lingkungan memakai alat tangkap tradisonal, seperti jaring anco, bubu dasar, bubu apung, jaring payang tepian, pancing rawe dasar, kombinasi jaring angkat dan bagan apung.

Nelayan di perairan Gunung Kunyit, Kelurahan Bumi Waras, Bandar Lampung, Surono, mengaku menggunakan jaring anco untuk menangkap udang rebon.

Ia mengatakan, jaring anco dibuat dari bambu sebagai pegangan untuk mengangkat. Lokasi pencarian udang rebon berada di perairan Gunung Kunyit, dengan umpan bulu ayam.

Lokasi pencarian udang rebon  kerap berada dekat kapal-kapal kargo, ferry anchor atau labuh jangkar. Tali dan dinding kapal menjadi lokasi udang rebon hidup berkelompok.

“Penggunaan jaring anco cukup praktis, sebab alat tangkap temporer ini hanya dipakai pada permukaan air. Melakukan penangkapan pada perairan yang tenang, mampu menghasilkan sekitar belasan kilogram udang rebon,” terang Surono saat ditemui Cendana News, Rabu (1/12/2021).

Alat jaring anco, sebut Surono digunakan untuk menyerok udang rebon yang hidup di permukaan air. Lokasi yang jernih, tenang dan bersih menjadi indikator habitat udang rebon yang ditangkap nelayan.

Sodikin (kiri) dan Surono (kanan) pencari udang rebon dengan memakai jaring anco memakai perahu ketinting di perairan Gunung Kunyit, Bumi Waras, Bandar Lampung, Rabu (1/12/2021). –Foto: Henk Widi

“Sekali melaut, nelayan biasanya menggunakan belasan anco untuk mengangkat udang rebon, alat tangkap tersebut cukup sederhana dan bisa dibuat sendiri memakai waring dan bambu hitam yang dirangkai, lalu bisa digulung sesusai digunakan,” terang Surono.

Surono bilang, selain alat jaring anco dalam sekali melaut ia juga memasang bubu kerapu dan lobster. Alat tangkap tersebut dibuat dari rangkaian keranjang buah atau bisa memakai bambu.

Selain keranjang, digunakan waring atau jaring kasa yang diberi lubang. Teknik menenggelamkan bubu hingga dasar perairan diberi umpan bulu ayam, usus ayam dan daging ayam menghasilkan tangkapan ikan kerapu, lobster. Pelampung dari styrofoam bekas dihubungkan memakai tali jadi penanda lokasi bubu.

Alat pancing rawe dasar digunakan Sodikin, nelayan Bumi Waras di perairan Gunung Kunyit. Pancing rawe dasar dipasang memakai tali yang dirangkai sepanjang ratusan meter.

Lokasi pemasangan pancing rawe dasar kerap digunakan pada area yang jarang dilintasi kapal dan perahu. Sebagian nelayan seperti dirinya memakai penanda berupa styrofoam pelampung, diberi bendera agar lintasan tidak ditabrak perahu.

“Pancing rawe dasar akan menghasilkan tangkapan ikan tongkol, kerapu dan kakap serta sejumlah ikan lain,” bebernya.

Pemanfaatan alat tangkap ramah lingkungan juga digunakan oleh Hermansah, dengan memanfaatkan jaring payang tepian. Alat tangkap jaring payang tepian ditebar memakai perahu, lalu dibentangkan.

Dua perahu penarik akan mengulur jaring payang dengan bagian ujung ditarik dari darat. Saat proses menarik, Galih, sang anak, membantu penarikan jaring payang tepian. Jaring payang akan menangkap ikan, udang serta kadang sampah kayu, plastik.

“Sampah yang terjaring oleh jaring payang tepian Hermansah menghasilkan ikan selar, ikan teri dan ikan pelagis. Berbagai jenis ikan pelagis tersebut bisa ditangkap setelah masuk ke dalam jaring payang,” katanya.

Sebagian ikan selar dan teri, katanya, akan dikumpulkan untuk dijual ke pasar. Alat tangkap jaring payang dioperasikan oleh minimal empat orang. Memanfaatkan alat tangkap pada permukaan perairan menghindari kerusakan terumbu karang.

“Jaring hanya menjangkau permukaan, bahkan justru ikut membantu pembersihan sampah,” ulasnya.

Alat tangkap jenis lain berupa jaring bagan apung juga dimanfaatkan Warsito. Nelayan di perairan Teluk Lampung itu mengaku jaring bagan apung dipasang di bawah rangkaian bambu. Saat melakukan penangkapan ikan, jaring pada bagan apung akan diangkat untuk mendapatkan ikan teri dan ikan selar.

“Berbagai jenis ikan akan ditangkap untuk bahan pembuatan ikan asin. Saat bulan gelap tanpa sinar bulan, hasil tangkapan ikan dengan jaring bagan apung hasilnya cukup banyak,” katanya.

Aminah, menyebut hasil tangkapan udang rebon dengan jaring anco dikeringkan. Satu kali penangkapan udang rebon bisa menghasilkan puluhan kilogram.

“Hasil tangkapan langsung dijemur tanpa pengawet ,sehingga menjadi udang rebon tawar. Harga saat hasil tangkapan melimpah mencapai Rp36.000 hingga Rp37.000. Saat tangkapan terbatas, harga bisa mencapai Rp40.000 per kilogram,” pungkasnya.

Lihat juga...