BRIN Ciptakan Produk Pangan ‘Abon Tabur’ Cegah Stunting

Penanggung Jawab Bidang Kesehatan dan Pangan Organisasi Riset Pengkajian dan Penerapan Teknologi (OR PPT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Soni Solistia Wirawan, berbicara dalam webinar sebagai rangkaian acara Gelar Riset dan Inovasi Bidang Kesehatan dan Pangan 2021 pada hari kedua di Jakarta, Rabu (1/12/2021). -Ant

JAKARTA – Organisasi Riset Pengkajian dan Penerapan Teknologi (OR PPT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), menciptakan produk pangan untuk mencegah stunting, berupa abon tabur.

“Ini mengandung vitamin bisa meningkatkan zat besi, sehingga ini digunakan untuk pencegahan stunting untuk remaja-remaja putri,” kata Penanggung Jawab Bidang Kesehatan dan Pangan OR PPT BRIN, Soni Solistia Wirawan, dalam webinar sebagai rangkaian kegiatan Gelar Riset dan Inovasi Bidang Kesehatan dan Pangan 2021 pada hari kedua di Jakarta, Rabu (1/12/2021).

Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak (pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Anak yang menderita stunting biasanya memiliki postur tubuh lebih pendek dari anak dengan pertumbuhan normal.

Soni menuturkan, abon tabur dengan merek dagang Purula itu dapat menjadi pelengkap makanan seperti furikake di Jepang. Abon tabur dibuat dengan rasa yang bermacam-macam seperti rasa sapi, sehingga dapat disesuaikan dengan selera konsumen, dan juga dapat dinikmati begitu saja dengan nasi panas.

Remaja perempuan rentan mengalami anemia jika tidak tercukupi kebutuhan gizinya. Berdasarkan data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, proporsi anemia pada perempuan sebanyak 27,2 persen. Faktor yang mempengaruhi adalah kebiasaan asupan gizi yang tidak optimal dan kurangnya aktivitas fisik.

Jika remaja perempuan dengan anemia dibiarkan begitu saja dalam kondisi yang lama, yang dikhawatirkan adalah nantinya janin dalam kandungan tidak akan mendapatkan gizi yang cukup sehingga berpotensi melahirkan bayi stunting.

Karena itu, dengan mengonsumsi pangan bergizi tersebut, diharapkan asupan zat besi pada remaja akan meningkat sehingga mencegah anemia, dan pada gilirannya potensi lahirnya bayi stunting dapat dicegah sejak awal.

Zat besi sangat penting sebagai pendukung utama produksi sel darah merah dalam tubuh. Dengan asupan zat besi yang cukup, diharapkan seseorang tidak kekurangan sel darah merah atau mengalami anemia.

Anemia mengakibatkan seseorang mengalami kelelahan, letih dan lesu, sehingga akan berdampak pada kreativitas dan produktivitasnya. Anemia juga meningkatkan kerentanan penyakit pada saat dewasa, serta melahirkan generasi yang bermasalah gizi.

Stunting juga masih menjadi persoalan pelik yang ingin segera diatasi pemerintah Indonesia untuk mendukung lahirnya generasi penerus bangsa yang produktif dan unggul.

Menurut data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) 2019, kasus stunting di Indonesia mencapai 27,7 persen, yang artinya sekitar 1 dari 4 anak balita atau lebih dari 8 juta anak mengalami stunting.

Untuk itu, produk riset dan inovasi berupa pangan untuk mencegah stunting diharapkan dapat membantu upaya pemerintah dalam menurunkan angka stunting di Indonesia. (Ant)

Lihat juga...