Garis Polisi Dipasang di Akses Menuju Area Tambang Supiturang Lumajang

LUMAJANG, JAWA TIMUR — Akses menuju area tambang pasir yang ada di Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur dipasangi garis polisi agar warga tidak mendekat ke wilayah tersebut.

Relawan Gerakbareng Jakarta Andre Kurniawan di Kabupaten Lumajang, Jumat, mengatakan bahwa untuk melakukan pemasangan garis polisi tersebut, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan Polsek Pronojiwo dan Satbrimob Polda Jawa Timur.

“Pasti itu sangat berisiko (menuju area tambang). Ketika orang yang tidak tahu atau masyarakat yang ingin melihat ke sana,” kata Andre.

Andre menjelaskan pemasangan garis polisi tersebut bertujuan agar warga tidak mendekati kawasan tersebut. Kawasan pertambangan di Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, masih memiliki potensi bahaya akibat awan panas guguran Gunung Semeru.

Pemasangan garis polisi tersebut, lanjutnya, dilakukan usai para relawan menyelesaikan proses evakuasi dan penyelamatan barang-barang berharga milik warga. Selain barang berharga, Relawan Gerakbareng Jakarta juga membantu evakuasi hewan ternak milik warga.

“Setelah proses evakuasi, kami baru masuk ke sini. Ternyata di sini ada beberapa potensi yang bisa membahayakan masyarakat,” ujarnya.

Ia mengimbau kepada masyarakat yang tidak memiliki kepentingan untuk tidak mendekat ke kawasan pertambangan. Hal tersebut bertujuan agar tidak ada tambahan korban, karena kondisi saat ini masih cukup berbahaya.

Pada area pertambangan itu, lanjutnya, berdasarkan sejumlah informasi yang ia terima, ada kurang lebih tiga truk tertimbun lahar. Selain itu, ada tujuh orang yang masih belum ditemukan hingga saat ini.

Gunung Semeru meletus pada 4 Desember 2021 dan mengeluarkan awan panas guguran (APG) mengarah ke Besuk Kobokan, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, kurang lebih pukul 15.20 WIB.

Kecamatan Pronojiwo merupakan salah satu wilayah terdampak cukup parah akibat letusan Gunung Semeru yang terjadi pada 4 Desember 2021. Di kecamatan tersebut, ada sepuluh lokasi pengungsian dengan jumlah pengungsi mencapai 525 jiwa.

Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga Kamis (9/12) pukul 12.00 WIB, 43 orang meninggal dunia dan 104 orang luka-luka. Dari 104 orang warga yang mengalami luka tersebut, 32 orang mengalami luka berat, dan sisanya luka sedang. [Ant]

Lihat juga...