Indonesia Masih Hadapi Masalah Status Gizi Masyarakat

JAKARTA — Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengemukakan Indonesia masih dihadapkan pada permasalahan kesehatan yang persisten, termasuk status gizi masyarakat.

“Angka harapan hidup pada kelahiran di Indonesia masih berkisar 71 tahun, ini berdasarkan survei pada 2018. Angka itu masih lebih rendah dibandingkan Australia, Amerika, Asia Timur, dan Pasifik,” kata dia saat hadir secara virtual dalam Launching SSGI Tingkat Nasional, Provinsi dan Kota/Kabupaten 2021 yang diikuti dari YouTube Kemenkes RI di Jakarta, Senin siang.

Dia mengatakan angka kematian bayi per 1.000 kelahiran hidup masih 22 orang, sedangkan prevalensi tengkes yang merupakan salah satu penilaian status gizi di Indonesia kurang lebih 26 persen. Akan tetapi, angka itu masih berada di atas Myanmar, Malaysia, Brunei, Vietnam, Thailand, dan Singapura.

Pada 2019, kata dia, ada 50 provinsi yang memiliki prevalensi tengkes di atas rata-rata nasional sebesar 27,7 persen. Artinya, setengah dari anak-anak yang ada di provinsi tersebut menderita tengkes.

Dante mengatakan pada kurun 2018 dan 2019, Kemenkes melakukan evaluasi tengkes dengan laporan terjadi pergeseran kelompok usia dengan kasus tertinggi serta penurunan prevalensi pada kelompok usia lebih muda.

“Kalau kita lihat pada 2018, maka usia ‘stunting’ (tengkes) yang paling banyak berada di usia 12 sampai 23 bulan, tetapi pada 2019 menjadi 24 dan 35 bulan,” katanya.

Di sisi lain, kata dia, kelompok usia 0-11 bulan mengalami penurunan dari tahun 2018 dan 2019.

“Ini harus mendapat perhatian dengan memperhatikan penurunan kelompok umur tersebut kita harus lakukan intervensi yang lebih akurat lagi,” katanya.

Dante mengatakan secara umum tren status gizi di Indonesia membaik pada 2021 berdasarkan indikator angka “stunted” (kurus) menurun 24,4 persen. Akan tetapi, “underwight” (berat badan kurang) meningkat dari tahun 2019 ke 2021.

Lihat juga...