Kebocoran-Pencurian Data Jadi Tantangan Besar di 2022

JAKARTA – Sepanjang 2021, rasanya kecanggihan teknologi serta digitalisasi sudah menjadi bagian yang makin tak terpisahkan dalam kehidupan manusia secara global. Digitalisasi menjadi solusi dan jawaban bagi manusia untuk bisa mulai berdamai dengan pandemi Covid-19 dalam dua tahun terakhir.

Mulai dari pemenuhan kebutuhan sehari- hari, kegiatan bermobilisasi, kegiatan perbankan, hingga layanan pengobatan saat ini makin mudah dijangkau dengan kehadiran digitalisasi.

Layanan itu pun kini bahkan tak lagi dirasakan oleh masyarakat perkotaan, namun juga menjangkau kampung- kampung hingga perdesaan yang sebelumnya bahkan tak mengenal apa itu internet di 2020.

Di balik semua manfaat tersebut, rupanya ada juga risiko besar yang menanti seperti kebocoran dan pencurian data. Sepanjang 2021, rasanya di lini media sosial hingga media massa tak sedikit berseliweran kasus kebocoran dan pencurian data.

Bukan hal yang baru sebenarnya masalah kebocoran dan pencurian data di ruang digital.

Namun, rasanya hal itu makin memanas dengan meningkatnya kemudahan dan juga layanan digital yang berkembang di masa kini. Sebut saja, beberapa kasus yang cukup menggegerkan terkait dugaan serta kebocoran data di 2021 seperti Kebocoran data BPJS Kesehatan di bulan Mei, disusul kebocoran data BRI Life pada Juli, dan tak kalah menggemparkan dugaan kebocoran data eHAC milik Kementerian Kesehatan.

Meski pada akhirnya ada yang terbukti benar mengalami “kebobolan” seperti kasus BRI Life dalam sistem BRI Life Syariah. Namun, ada juga yang ternyata pada akhirnya dugaan tersebut tak benar atau tidak ditemukan kebocoran data seperti kasus eHAC.

Lihat juga...