Kucing Gila

CERPEN ENDANG S. SULISTYA

Selintas lalu rumah itu tampak artistik. Atap joglonya mengesankan klasik. Pintu model kuno berbahan kayu jati tua berlapis pelitur coklat keemasan. Hiasan kaca berwarna hijau lumut pada jendela yang selaras membaur dengan pepohonan rindang yang tumbuh di depan rumah. Lantai keramik coklat lembut juga terkesan kalem nan bersahaja.

Menjelang Magrib, rumah semi permanen itu teramat senyap. Cahaya bohlam sepuluh watt yang dipasang di teras rumah kurang bersinar terang tetapi tidak juga remang. Sinar lampu neon dari dalam rumah yang memantul pada kaca hijau lumut menyumbang terang yang demikian anggun.

Pemilik rumah adalah seorang janda. Suaminya meninggal karena suatu penyakit paru. Sementara dua anaknya yang telah dewasa pergi merantau. Menikah dan menetap di perantauan.

Janda itu tak terlihat kesepian. Meski hidup sendirian di dalam rumah yang bisa dibilang terlampau luas untuk dirinya seorang diri. Baginya, kesendirian bukan berarti hidup kesepian.

Ia tak pernah terlihat murung. Wajahnya selalu berbinar-binar ceria. Ia selalu punya alasan untuk bahagia.

Suatu kali janda itu menemukan seekor kucing hitam. Matanya bening dan terang seperti bola peramal. Janda itu tergoda memeliharanya.

Ia pikir kucing itu bisa menjadi temannya yang setia. Maka kemudian hiduplah janda itu dengan seekor kucing yang ke mana-mana selalu mengikutinya. Kecuali ketika janda itu ke pasar.

Saban wage, ia berangkat ke pasar. Menumpang pikap tetangganya. Ia terkenal sebagai penjual nasi kluban yang enak. Berbagai macam gorengannya pun tidak mengecewakan. Gedang gorengnya manis. Tempe mendoannya renyah. Bakwannya empuk serta gurih.

Sementara pulangnya ia selalu mengojek dengan tukang ojek yang sama. Hingga orang-orang mendesuskan ia punya hubungan khusus dengan tukang ojek yang masih lajang itu.

Seperti sudah kebal dari omongan tetangga, janda itu hanya menanggapi dengan senyuman. Toh, waktu akan menampakkan kebenaran.
***
Aku tengah duduk santai di teras rumah. Kujilat sebelah tangan yang masih menyisakan amis bandeng. Lalu lalang orang yang lewat tak kuhiraukan. Aku asyik dengan kesibukanku hingga suara cempreng obrolan menggugah perhatian.

“Rumah siapa ini, Yu?” tanya wanita berkerudung coklat pada rekannya yang pakai caping. Serta-merta keduanya sejenak mematikan langkah. Dari penampilannya, aku tahu mereka buruh tandur. Sekarang memang sedang musim tanam. Ibu-ibu rumah tangga di pedesaan ini memanfaatkan kesempatan untuk mencari tambahan uang belanja.

“Rumah jandanya Pak Karso,” jawab wanita pakai caping usai sekilas matanya menyapu pandang rumah yang ditunjuk temannya.

“Oh … Pak Karso yang dulu kerja di kecamatan itu?”pertanyaan wanita berkerudung coklat diangguki oleh wanita bercaping.

“Janda Pak Karso belum menikah lagi to, Yu? Padahal dia masih muda dan cantik, pasti banyak yang mau,” imbuh wanita berkerudung coklat.

“Dengar-dengar sudah banyak orang yang datang melamar tapi ia memang memutuskan tak akan menikah lagi,” terang wanita pakai caping melajukan langkah.

“Kenapa? Apa karena anak-anaknya tidak memperbolehkan?” buru wanita berkerudung coklat sembari beranjak menyusul langkah temannya.

“Ia tak mau kehilangan pensiun dari almarhum suaminya. Kalau ia menikah lagi, pensiun yang dia dapat akan dicabut pemerintah,” jelas wanita pakai caping, memelankan suara.

“Kalau aku jadi dia mungkin aku juga begitu. Kecuali yang melamar orang kaya raya, mungkin aku bisa mempertimbangkan.”

“Jangan mengkhayal! Suamimu cuma tani. Tak dapat pensiun.”

Laju kaki dua wanita buruh tandur  itu makin menjauh. Suara bincang mereka mulai terdengar sayup-sayup di telingaku.

“Walaupun istri tani, memangnya aku tidak boleh mengkhayal? Kejam sekali dunia ini…” suara wanita berkerudung coklat terdengar merajuk. Selanjutnya bergema suara tawa dari keduanya.

“Nis….?” panggilan majikanku memangkas pengamatanku. Bergegas kupenuhi panggilan majikan yang sudah menunggu di ruang tengah. Aku lewat pintu samping karena pintu depan terkunci.

“Kok makan siangnya tidak dihabiskan, Nis? Sudah kenyang atau tidak doyan?” deretan tanya dari majikanku membuatku merasa bersalah.

Hendak kujelaskan bahwa bandeng yang kumakan sepertinya mengandung formalin. Terlambat. Majikanku sudah berlalu ke dapur dengan membawa wadah makanku.

Aku berlari-lari kecil untuk menyusul. Ingin kubilang bahwa aku akan menghabiskannya nanti sore. Namun majikanku sudah membuang sisa makan siangku ke tong sampah.

Perilaku majikanku itu di luar kebiasaan. Tak pernah sebelumnya, majikanku membuang-buang makanan begitu saja. Biasanya ia akan menyimpannya lebih dulu.

Kukira ia demikian karena sedang kesal. Tadi pagi dompetnya kecopetan di pasar. Padahal di dalam dompet itu ada sisa gaji pensiun suaminya juga uang jerih payah berdagang.

Kutelusuri paras majikanku dengan seksama. Gurat kelelahan bercampur kesedihan begitu kentara. Aku mendekat untuk menghibur seperti biasa. Kugunakan berbagai cara untuk membuatnya tersenyum. Dan lihat hasilnya! Giginya yang rapi dan putih itu sudah mulai tampak.

“Tok, tok! Assalamualaikum?” Ketukan pintu pula salam memutus senda gurau kami.

Ketukan di pintu makin rapat, membuat majikanku cepat menuju ruang depan. Kuekori langkah majikanku.

“Alaikumsalam. Ya, sebentar!”

“Siapa ya?” tanya majikanku sesaat setelah pintu terbuka. Wajah seorang pemuda yang belum kukenal muncul dari balik pintu.

“Saya David, Bu. Anak Bu Maryam yang punya toko emas Sriwijaya,” jawab tamu itu ramah. Senyum tipis terpulas di bibir pinknya. Dapat kutebak, ia tak merokok. Aku suka pria tak merokok. Begitu halnya dengan majikanku.

“Oh iya. Silakan duduk dulu, saya buatkan minum sebentar.”

Lihat juga...