Museum Rumah Adat Nan Baanjuang di Bukittinggi

BUKITTINGGI – Museum Rumah Adat Nan Baanjuang di lokasi Taman Marga Satwa Kinantan Bukittinggi (TMSBK) Kota Bukittinggi, saat ini memiliki 600 macam benda koleksi sejarah yang terdiri dari benda kuno dan peninggalan budaya sejarah daerah setempat.

“Sebanyak 600 benda kuno itu terbagi dalam delapan koleksi yang terhimpun di dalam Rumah Gadang, yang dulu bernama Museum Bundo Kanduang,” kata Ahli Budaya, sekaligus pemateri dalam rangkaian kegiatan sosialisasi pemanfaatan museum bersejarah, Silvia Devi di Istana Bung Hatta Bukittinggi, Rabu (8/12/2021).

“Koleksinya terbagi dalam miniatur arsitektur tradisional, pakaian adat, perlengkapan rumah tradisional, perlengkapan mata pencaharian, kesenian, beladiri, sejarah dan hewan yang diawetkan,” kata Silvia.

Ia mengatakan, rumah adat yang menjadi salah satu museum terbaik di Kota Bukittinggi dan Sumatra Barat ini dibangun pertama kali oleh seorang berkebangsaan Belanda pada 1953.

“Dibangun oleh Modelar Countrolleur, seorang berkebangsaan Belanda, sesuai Perda Kota Bukittinggi Nomor 5 tahun 2005 diganti luas bangunannya menjadi 2.798 meter persegi dengan bentuk Rumah Gadang Bagonjong Gajah Maharam, dengan sembilan ruang,” kata dia.

Ia menyebutkan, bangunan itu terdapat anjungan di bagian kiri dan kanan berupa rangkiang, dengan khas pemakaian kayu dan ijuk. “Pada 1956 dilengkapi dengan patung Kabau Pedati yang kemudian dikelola dan dimiliki oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi.”

Ia mengatakan, beberapa permasalahan saat ini dalam mengenalkan sejarah melalui pemanfaatan museum dan ketertarikan pengunjung untuk mempelajari budaya, harus dipecahkan bersama antara dinas terkait dengan pemerhati budaya untuk menarik minat warga.

“Juga harus dioptimalkan keterangan pada benda sejarah, seperti belum ada yang berisi keterangan informasi koleksi (asal, kegunaan, nillai, makna dan fungsi), misalnya masih hanya sebatas nama koleksi, juga untuk pengamanan koleksi seperti pembatas antara pengunjung dengan koleksi museum,” sebutnya.

Ia berharap, adanya solusi dengan menambah jumlah tenaga yang kompeten sesuai kebutuhan (konservator, registrar, penata pameran). Mengadakan pelatihan teknis kepada pemandu yang ada di anjungan dan melakukan pemetaan jabatan sesuai latar belakang pendidikan dan kompetensi yang sesuai.

“Sedangkan dari sisi Sumber Daya lainnya bisa dilakukan inventarisasi dan registrasi koleksi, yaitu membuat sistem informasi koleksi yang baik, mengunakan sarana dan prasarana yang sesuai dengan fungsi dan memiliki nilai estetika,” jelasnya.

Kegiatan Sosialisasi Museum Sejarah di Kota Bukittinggi ini dilakukan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi, diikuti oleh puluhan warga yang diharapkan mampu menarik minat dan pengembangan pendidikan sejarah. (Ant)

Lihat juga...