Nobel Ekonomi 2019 Tentang SD Inpres Warisan Pak Harto

Pamflet Bedah Buku Legasi (warisan) Pak Harto yang digelar di JCC Senayan, Sabtu (11/12/2021). -Ist.

JAKARTA – Warisan immaterial dari Presiden Soeharto berupa kebijakan tentang SD Inpres pada era 1970-an, telah mengantarkan seorang Ekonom Dunia berkebangsaan Amerika Serikat, Esther Duflo, meraih penghargaan Nobel Ekonomi pada 2019.

Seperti diketahui, SD Inpres merupakan salah satu dari sekian banyak program sekaligus keberhasilan monumental Presiden Soeharto, selama memimpin bangsa Indonesia.

Hingga periode 1993/1994, tercatat hampir 150.000 unit SD Inpres telah dibangun. Seiring dengan itu, ditempatkan pula lebih dari 1 juta guru Inpres di sekolah-sekolah tersebut. Total dana yang dikeluarkan untuk program ini hingga akhir Pembangunan Jangka Panjang Tahap (PJPT) I mencapai hampir Rp6,5 triliun.

Karena program tersebut, Presiden Soeharto pun dianugerahi penghargaan Medali Emas Unesco Avicenna (pendidikan) Unesco pada 1993.

Berangkat dari fenomena tersebut, dalam momentum 100 tahun Kelahiran Presiden RI ke-2 Jenderal Besar HM Soeharto, sebuah buku baru yang membahas  sisik melik warisan Pak Harto berjudul ‘Legasi Pak Harto’ karya Mahpudi MT, akan dibedah dan diluncurkan dalam rangkaian acara International Indonesia Book Fair di JCC Senayan, Sabtu (11/12/2021) siang nanti, pukul 14.00-15.00 WIB.

Selain dihadiri oleh penulis buku sebagai narasaumber utama, Mahpudi MT, buku ini juga akan dibahas secara intensif oleh Pakar Komunikasi, Effendi Gazali, Pakar Ekonomi lulusan Universitas Erasmus Belanda, Anthony Budiawan, dan salah satu cicit Presiden Soeharto, Haryo Putra Nugroho Wibowo, yang juga merupakan Chairman Perusahaan GATRA Group.

Dalam forum tersebut, Efendi Gazali akan lebih menyoroti Algoritma Komunikasi yang berkembang dari berbagai literasi tentang Pak Harto. Sedangkan, Haryo Putra Wibowo akan banyak menyampaikan pengalaman pribadi sebagai cicit Presiden yang sedikit banyak telah berdialog dan menimba ilmu dari kakeknya.

Di sisi lain, ekonom Indonesia, Anthony Budiawan, akan lebih membuat tinjauan dialektis atas situasi ekonomi di masa Presiden Soeharto jika dibandingkan dengan situasi ekonomi aktual di masa Presiden Jokowi saat ini.

Dalam beberapa waktu terakhir, Anthony Budiawan banyak memberikan catatan kritis di media, khususnya pembahasan mengenai situasi ekonomi politik pascamundurnya Presiden Soeharto.

Menurut Anthony Budiawan, ketika Presiden Soeharto mengundurkan diri, banyak pihak yang ingin mengubah dan menghancurkan ‘kontrak sosial’ antarmasyarakat tertanggal 17 Agustus 1945.

MPR pimpinan Harmoko periode 1 Oktober 1997 hingga 30 September 1999, mengeluarkan TAP MPR No VIII/MPR/1998 pada 13 November 1998. Dampaknya, MPR bahkan mengamputasi sendiri secara suka rela wewenangnya sebagai wakil rakyat, di mana MPR tidak mempunyai wewenang lagi untuk memberhentikan presiden, bila dianggap melanggar kesepakatan ‘ontrak sosial’ (UUD).

Sebagai buku paling mutakhir yang membahas tentang Pak Harto, Buku Legasi Pak Harto karya Mahpudi MT ini melihat warisan Pak Harto dengan perspektif yang unik dan berbeda.

Penulis mengungkap warisan Pak Harto dalam wujud prasasti yang ditandatangani Pak Harto, 999 bangunan masjid, Mushaf Alquran, buku, perangko, berbagai naskah pidato, karya-karya pembangunan, serta berbagai yayasan.

Buku yang diterbitkan oleh Yayasan Harapan Kita ini ditulis dengan bahasa yang ringan, namun sangat kaya dengan data.

Selain bedah buku Legasi Pak Harto, International Indonesia Book Fair juga menggelar stand khusus berbagai buku tentang Pak Harto bertajuk “All About Soeharto”, baik dalam bentuk buku cetak maupun buku digital.

Harapannya, dengan pameran buku khusus “All About Soeharto” ini, akan bisa menumbuhkan penerus-penerus Esther Duflo dan Anthony Budiawan, yang memiliki fokus perhatian riset tentang legasi Pak Harto.

Selain itu, pameran All About Soeharto juga ingin makin menumbuhkan semangat literasi di Indonesia, tak kecuali semangat literasi tentang berbagai warisan Presiden Soeharto.

Sementara itu, bedah buku akan diikuti oleh puluhan peserta secara offline dengan protokol kesehatan yang ketat, dan diikuti secara online oleh berbagai elemen masyarakat dan sivitas akademika dari berbagai wilayah melalui channel YouTube Gatra TV.

Lihat juga...